Share

Keren! Pemuda Ini Hasilkan Cuan dari Ekspor Kostum Cosplay ke Amerika dan Eropa

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 21 Desember 2021 15:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 21 455 2520410 keren-pemuda-ini-hasilkan-cuan-dari-ekspor-kostum-cosplay-ke-amerika-dan-eropa-Kkg177YnLM.jpg Pemuda di Malang Buat Kostum Cosplay. (Foto: Okezone.com/Avirista)

KOTA MALANG - Dari hobi cosplay, sejumlah anak muda di Malang menghasilkan cuan jutaan. Mereka membuat kostum cosplay yang berhasil diekspor ke berbagai negara..

Melihat tempat pembuatannya tak ada yang menyangka, bila kostum cosplay kreasi pemuda di Kota Malang ini menjelajahi pasaran benua Eropa, Amerika, hingga Asia. Lokasi pembuatan kostum cosplay berada di sebuah studio kecil di belakang rumah di kawasan Jalan Janti Barat Nomor 31, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Di studio belakang rumah yang sempit, sejumlah pemuda menerima pesanan cosplay dan membuatnya. Mereka bekerja dengan peralatan sederhana, namun dengan hasil yang berkualitas dengan memanfaatkan bahan-bahan spon.

Baca Juga: 7 Peluang Usaha Murah Meriah di Bawah Rp500 Ribu

Seniman pembuat cosplay Magisterian Zona Pahlevi menyatakan, ide pembuatan kostum cosplay dimulai sejak dirinya dengan sejumlah temannya memiliki kesamaan hobi. Dari hobi tersebut, kemudian pada 2006 ia dan empat orang rekannya mencoba membuat kostum cosplay, hingga akhirnya pesanan mulai datang pada tahun 2008.

"Belajar buat itu mulai 2005, ikut suatu komunitas cosplay dari situ berkembang ingin membuat kostum cosplay. Belajar otodidak membuatnya," ujar pria yang akrab disapa Levi ini.

Tak mudah memang mengembangkan penjualan kostum cosplay, apalagi ada kesulitan dalam hal mendetailkan ukuran cosplay. Beberapa kali keluhan dan komplain pelanggan memang muncul, tetapi Levi dan kawan-kawannya tak menyerah serta berhasil menjawabnya. Perlahan tapi pasti, kostum cosplay produksi ACT Costum cosplay mulai memasuki pasar ekspor.

Baca Juga: Intip Potensi Perikanan Budidaya di 2022

"Kita mulai eskpor itu tahun 2010 perlahan-lahan. Promosinya melalui media sosial, komunitas, dan internet pokoknya, akhirnya sekarang sudah merambah pasar luar negeri," katanya.

Levi menambahkan, saat ini tercatat sejumlah negara menjadi tujuan cosplay kreasi ACT Costum. Beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Prancis, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Sementara untuk di Indonesia, sejumlah kota besar mulai Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, hingga Surabaya menjadi tujuan pemasarannya.

"Kalau pemasaran kita pasarkan kemanapun yang penting nyantol, tapi memang sampai saat ini kebanyakan lakunya di luar negeri. Jadi hampir sebagian besar pelanggannya di sana," ungkapnya.

Kualitas produk yang diutamakan membuat harga yang ditawarkan terkesan memang cukup mahal. Tetapi ia menjamin bahwa kualitas yang didapatkan pembeli juga sebanding dengan harganya. Apalagi setiap kostum cosplay memiliki tingkat kerumitan dan lama pengerjaan yang berbeda-beda.

"Bahannya spon, tingkat pengerjaannya berbeda-beda tergantung tingkat kerumitan tokoh yang dibuat. Kalau tidak ada kendala biasanya satu bulan selesai, tapi kalau ada kendala bisa berbulan-bulan, tergantung kendala yang dihadapinya. Ada yang murah tapi di bawah kita, tapi karena prosesnya rumit ujung - ujungnya naik juga harganya. Jadi antara proses pembuatan dan hasilnya nggak imbang," paparnya.

Saat ini dikatakan Levi, dari sekian tokoh film yang kerap dipesan untuk pembuatan cosplay Spiderman dan Kamen Rider menjadi yang terlaris dipesan. Namun selain tokoh - tokoh tadi, pihaknya kini tengah mengerjakan beberapa tokoh cosplay seperti Robocop, Power Rangers, hingga Transformers.

Masing-masing tokoh cosplay itu dibanderol dengan harga berbeda-beda, mulai Rp 700 ribu hingga pernah yang laku paling mahal mencapai Rp 12 juta.

"Kalau untuk item dijual mulai Rp 700 ribu, kostum full Rp 4 juta, tapi tergantung kerumitan dan ukurannya. Kita termahal bikin cosplay sekitar Rp 12 juta pernah, itu tokoh Transformers. Karena rumit pengerjaannya, itu berbulan-bulan dikerjakan, kita lima orang nangani satu kostum itu. Jadi memang harus detail, kita ada form ukuran, lingkar leher, lengan, paha, sampai kaki, nanti orangnya ngukur sendiri, baru kita buatkan," jelasnya.

Namun pada proses pembuatannya, Levi mengaku tak selalu mulus. Apalagi saat musim penghujan tiba seperti akhir-akhir ini, proses pembuatan justru memakan waktu lebih lama. Mengingat ada beberapa cat untuk warna cosplay, harus mendapat penyinaran dari sinar matahari untuk menimbulkan kesan artistik.

"Kendala cuaca hujan, beberapa cat kalau nggak ada sinar matahari, yang cat metalik itu warnanya nggak muncul. Jadi harus dijemur di bawah sinar matahari. Itu susahnya kalau hujan. Tapi yang paling penting itu mood, kalau mood itu penting, kalau sudah nggak mood susah," tuturnya.

Kini di tengah situasi pandemi Covid-19 diakui Levi juga mengalami penurunan omzet. Bahkan di awal - awal Covid-19 omzet penjualan sempat anjlok total dan pernah tidak ada pesanan dari pembeli. Namun seiring dengan situasi membaiknya angka Covid-19 di beberapa negara termasuk di Indonesia, perlahan mulai mengalami kenaikan omzet.

"Dibanding kemarin sempat covid agak pengaruh. Saat ini mulai ada event juga, awal-awal Covid turun 50 persen. Pernah itu sudah pesan, sudah dibuatkan tapi kena cancel, karena memang eventnya nggak ada. Sekarang mulai berkembang lagi, lumayan naik lagi, karena event cosplay sudah banyak. Tapi belum sebanyak yang dulu, sekarang lumayan tapi naik lagi 80 persen, dibandingkan sebelum covid, . Kalau Covid itu sebulan dua kostum," paparnya,

Sementara itu seniman cosplay lainnya Muhammad Amin mengungkapkan, selain melayani pembuatan kostum cosplay, biasanya saat tidak ada pesanan ia dan teman-temannya membuat kostum pada bagian kepala dahulu. Nantinya setelah jadi helm tokoh itu dipasarkan untuk menarik minat pembeli

"Sementara menunggu pesanan dari konsumen, kalau lagi boring kita bikin helm - helm (cosplay) sendiri, terus bikin produk sendiri, baru ditawarkan di sosial media," ungkap Amin.

Dia berucap meski kini banyak saingan sejak 2015, tetapi pihaknya tetap yakin bisnis cosplay masih menjadi prospek ke depan. Apalagi setiap tahunnya akan ada tokoh - tokoh baru yang dijadikan film.

"Mulai ada saingan itu tahun 2015. Jadi untuk prospek yakin lah, bisa tambah banyak, setiap tahun ada karakter baru yang muncul. Misalnya Kamen Rider pasti ada yang baru, itu setiap tahun ada. Tetapi yang ingin kita bikin itu karakter itu Godzilla yang besar ukuran dua meter lebih, kita belum pernah bikin. Pernah bikin figurnya yang ukuran satu meter," ucapnya.

Dirinya berharap dengan mulai berangsur-angsur membaiknya kasus Covid-19 bisa membuat omzet pendapatannya meningkat. Apalagi beberapa daerah di Indonesia mulai memperbolehkan adanya kegiatan seperti festival cosplay.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini