Share

Periskop 2022: Menanti Kebangkitan Industri Properti Tahun Ini

Sevilla Nouval Evanda, Jurnalis · Rabu 05 Januari 2022 08:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 04 470 2527172 periskop-2022-menanti-kebangkitan-industri-properti-tahun-ini-AJmINE2IdP.jpg Industri Properti (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sektor properti digadang-gadang bakal sangat potensial di 2022. Tak hanya bertahan, salah satu instrumen investasi ini pun digadang-gadang bakal segera “sembuh” dari jeratan pandemi Covid-19.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP Rei) Paulus Totok Lusida menyebut, rata-rata perkembangan industri ini meningkat sekitar 15% sepanjang 2021.

“Di 2021, kita secara average meningkat dibanding average di 2020 sebesar 15%-an,” ungkap Paulus saat dihubungi Okezone, Rabu (5/1/2022).

Baca Juga: Bisnis Properti 2022, Residensial hingga Industri Logistik Diprediksi Melesat

Secara khusus, Director Research Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus berharap, penyerapan pasar pada sektor residensial bisa tembus 10% dari tahun 2021.

“Kalau sektor residensial yang kita perkirakan akan mengalami pertumbuhan lebih bagus dibanding sama yang lain, ya. Kalau perkiraan saya mungkin pertumbuhan dari segi penyerapan pasar tahun ini akan meningkat sekitar 10-20%,” paparnya saat dihubungi.

Adapun menurut data survei “Property Outlook 2022” Knight Frank Indonesia, residensial memang dinilai akan menjadi best performer di tahun ini oleh 57% responden.

Baca Juga: Harga Rumah Naik Terbatas, Penjualan Lesu di Kuartal III

Pemulihan sektor ini pun diperkirakan akan rebound perlahan, diikuti sektor industri & logistik yang akan memulih menurut 54% responden Knight Frank.

Mengingat pesatnya teknologi dan pengaruh pandemi, 30% responden Knight Frank pun beranggapan, pertumbuhan properti di 2022 bakal terjadi mayoritas karena transformasi digital terhadap industri ini.

Milenial, Target Pasar Bertahun

Beberapa tahun ke belakang, kaum generasi Y alias milenial masih jadi sasaran pasar properti. Mulai dari berbagai promosi sampai desain properti banyak dibuat sesuai ciri khas generasi penuh kesan terjangkau, praktis, dan minimalis ini.

Selain kaum gen Y, industri properti juga menyasar masyarakat ekonomi menengah. Khususnya, selama dan pascapandemi Covid-19. Paulus menganggap, kelompok ini bisa memberikan multiplayer effect pada seluruh industri.

“Kalau kelas menengah ini membeli, multiplayer effect yang ditimbulkan oleh properti ini akan terjadi … Jadi, kelas bawah akan jalan, kelas atas menikmati keuntungan dan cashflow,” tutur Paulus.

Bicara tentang target pasar, lantas apa yang jadi minat masyarakat di tahun 2022 mendatang?

Selama beberapa tahun ke belakang, khususnya di tengah pandemi, konsentrasi para investor adalah subsektor rumah tapak. Hal ini diungkap Paulus sekaligus Anton. “Mungkin sampai 2023, primadonanya masih rumah tapak,” ungkap Anton.

Bahkan, tak sedikit dari mereka yang berkecimpung dalam subsektor apartemen maupun perkantoran justru beralih ke rumah tapak.

Kondisi ini pun diperkirakan Anton tak akan dengan berubah dalam 1-2 tahun ke depan. Kecuali, kondisi pandemi telah benar-benar tuntas seperti sedia kala. “Kalau (pandemi) sudah benar-benar tuntas, mungkin baru orang akan balik lagi ke subsektor yang lain.”

Sementara itu, subsektor perkantoran dan ritel disebut-sebut masih akan dalam kondisi oversupply di 2022. Pasalnya, keduanya termasuk dalam pasar sewa yang juga terdampak pandemi Covid-19.

“Untuk hunian sewa (seperti ritel dan perkantoran), itu lebih ke secondary market. Akibat jumlah pasokan yang sangat banyak di pasar, itu tingkat kekosongannya tinggi,” papar Anton.

Demi terus menyokong pemulihan industri properti tahun ini, Paulus Totok berharap implementasi kebijakan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang menggantikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dapat berlangsung lebih baik dan jelas.

“(Masalahnya) di aplikasinya (PBG). Suatu aturan baru dalam mengaplikasikannya itu harus keep in touch (dari) yang membuat aturan. Nah, ini tidak. Cuma pemberitahuan. Yah, tidak ada yang merealisasikan,” ujar Ketua Umum DPP REI itu.

Properti, Instrumen Investasi

Properti menjadi salah satu instrumen pilihan dalam berinvestasi. Anton Sitorus menyebut, tahun 2022 ini pun minat masyarakat terhadap properti masih akan tinggi. Mereka pun akan tetap memilih properti dalam berinvestasi.

“Sektor properti di sini masih dilihat sebagai salah satu instrumen investasi yang cukup memiliki daya tarik karena imbal hasil yang didapat juga cukup tinggi dibandingkan investasi yang lain,” sebut Anton.

Dirinya juga beranggapan, properti memiliki nilai prestisius tersendiri. Pasalnya, seseorang yang berinvestasi lewat properti dapat dilihat kemampuan finansialnya oleh orang lain.

“Kalau di properti, (orang-orang) bisa lihat. ‘Oh, dia punya apartemen, ruko, atau gedung’. Jadi ada faktor prestisenya,” tambahnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini