Share

Apa Kabar Vaksin Merah Putih Made in RI dan BUMN?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 24 Januari 2022 21:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 24 320 2537161 apa-kabar-vaksin-merah-putih-made-in-ri-dan-bumn-cp0u0WVjgf.jpeg Vaksin Covid-19 (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA - PT Bio Farma (Persero) menyatakan potensi atau resiko kegagalan pengembangam vaksin Merah Putih bisa saja terjadi.

Untuk mengantisipasi kegagalan itu, perseroan pun menyiapkan vaksin BUMN sebagai alternatif vaksin yang diproduksi secara mandiri. Pernyataan itu disampaikan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI Senin (24/1/2022).

Menurutnya saat ini, vaksin Merah Putih akan masuk pada tahap pra klinis setelah prototipe ketiga memenuhi standar industri.

Baca Juga: Indonesia Kembali Terima 651.130 Vaksin AstraZeneca Bantuan dari Jepang

Honesti mencontohkan, pengembang vaksin Covid-19 asal Jerman, cureVec, yang menerima kegagalan setelah hasil uji klinis tahap tiga yang tidak memenuhi standar World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia.

"Dalam pengembang produk vaksin ini memang beresiko sangat tinggi, bisa saja proses itu sudah kita mulai dan setiap tahapan itu ada resiko kegagalannya. Mungkin bapak, ibu pernah dengar satu vaksin Covid yang dikembangkan oleh pengembang cureVec namanya di Jerman, mereka tuh sudah sampai ke tahap tiga dan pada saat selesai uji tahap tiga dan ternyata mereka tidak memenuhi standar WHO, sehingga mereka kesti memulai dari nol," ujar Honesti.

Dia menjelaskan, vaksin Merah Putih merupakan produk yang membutuhkan waktu lama. Honesti mencatat, persoalan yang pernah terjadi adalah seed vaccine (bibit vaksin), di mana dalam dua kali proses seed vaccine yang diterima dari Eijkman belum memenuhi standar industri sehingga sulit diproduksi.

Baca Juga: Siswa SD Meninggal Usai Divaksin, Pemkab Sukabumi Koordinasi dengan Pemerintah Pusat

Perkara seed vaccine itu baik dari kualitas dan masalah harga vaksin yang dinilai akan menjadi mahal. Bio Farma dan Eijkman hingga kini terus melakukan optimalisasi pengembangan seed vaccine sebelum masuk pada tahap uji praklinis.

"Kami terus melakukan bersama- sama dengan Eijkman, ada peneliti dari Eijkman hingga hari ini pun masih melakukan kerja sama dengan tim kami di Bandung untuk pengembangam Seed vaccine ini. Dan alhamdulilah prototipe yang ketiga ini sudah memenuhi standar industri dan segera kita akan masuk ke tahap uji praklinis dengan Eijkman," ungkapnya.

Perihal vaksin BUMN, Bio Farma sudah menggandeng pengembang vaksin asal Amerika Serikat, Baylor College Medicine. Tercatat, ada dua formula yang digunakan perseroan dalam pengembangam vaksin BUMN yakni formula adjuvan alum dan novel ajuvan spiji (alum +CpG).

Formula adjuvan alum sudah mendapatkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) untuk uji klinik Fase 1 dari Badan POM yang sudah ditandatangani sejak 6 Desember 2021 lalu.

"Untuk formula pertama yang menggunakan formula adjuvant alum ini kita sudah mulai uji klinisnya dari Desember kemarin dan sampai hari ini sudah dilakukan penyuntikan kedua daripada semua relawan yang terlibat. Di mana, relawannya kita lakukan 30 subjek dewasa dan 30 sebagai pembanding, termasuk lansia," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini