Share

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok hingga 2,28%

Antara, Jurnalis · Rabu 26 Januari 2022 07:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 26 278 2537833 wall-street-lesu-nasdaq-anjlok-hingga-2-28-EKpEmESyMU.jpg Wall Street Melemah. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Bursa saham AS, Wall Street berakhir melemah pada perdagangan Selasa. Saham teknologi yang sensitif terhadap rencana kenaikan suku bunga The Fed tertekan paling besar. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik berkontribusi pada gejolak pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 66,77 poin atau 0,19% menjadi 34.297,73 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 53,68 poin atau 1,22% menjadi 4.356,45 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 315,83 poin atau 2,28% menjadi 13.539,30 poin.

Baca Juga: Sempat Anjlok, Wall Street Rebound di Akhir Perdagangan

Dalam pola yang mirip saat perdagangan Senin, saham AS bergerak antara penurunan tajam dan kenaikan moderat. Ekuitas berakhir dengan baik dari posisi terendah sesi, di mana S&P 500 sekali lagi bermain-main dengan mengkonfirmasi koreksi.

Jika indeks penentu arah ditutup 10 persen atau lebih di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada 3 Januari, itu akan mengkonfirmasi bahwa ia memasuki koreksi pada tanggal tersebut. Indeks S&P 500 mengakhiri sesi 9,2 persen di bawah level tersebut.

Baca Juga: Wall Street Anjlok, Saham Netflix Turun 21,8%

"Kami mengambang di sepanjang garis 10 persen yang berubah-ubah ini, dan investor bertanya. 'Apakah sudah waktunya untuk melindungi modal saya dengan menjual atau sudah waktunya untuk membeli penurunan?" kata Manajer Portofolio Senior GLOBALT, Tom Martin, dikutip dari Antara, Rabu (26/1/2022).

"Dan antara kemarin dengan gerakan ke bawah dan ke atas, Anda memiliki pertempuran di antara keduanya," ujarnya.

Indeks Volatilitas Pasar CBOE ditutup pada level tertinggi sejak 29 Januari 2021.

Sementara itu, Anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berkumpul untuk pertemuan kebijakan moneter dalam dua hari. Pelaku pasar pun mencermati pernyataan pada kesimpulan pertemuan tersebut.

"Tentu saja, data ekonomi akhir-akhir ini menunjukkan beberapa pelemahan," tambah Martin. Anda akan berpikir mungkin ada pesan yang lebih dovish dari The Fed," ujar Tom.

Sedangkan ketegangan geopolitik menambah ketidakpastian investor, dengan NATO menempatkan pasukan dalam siaga dan Amerika Serikat menempatkan pasukan dalam siaga tinggi guna menanggapi penumpukan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina.

Ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah di tengah kekhawatiran atas pengetatan pasokan, yang pada gilirannya memberi perusahaan energi dorongan yang kuat.

Energi adalah pencetak keuntungan teratas di antara 11 sektor utama di S&P 500, dengan saham teknologi mengalami penurunan persentase terbesar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini