Share

Jurus Sri Mulyani Perkuat Ekonomi Indonesia

Michelle Natalia, Sindonews · Rabu 02 Februari 2022 11:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 02 320 2541267 sri-mulyani-tak-lagi-pikirkan-bansos-dan-ketahanan-dunia-usaha-OZsltlngC6.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani.(Foto: Okezone.com/KBUMN)

JAKARTA - Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani mengatakan, kebijakan yang diambil pemerintah adalah mempercepat pemulihan ekonomi dengan mewaspadai efek rambatan dari kompleksitas kebijakan antarnegara akibat pemulihan ekonomi yang tidak merata, tekanan inflasi, dan supply disruption.

"Kompleksitas kebijakan antarnegara baik dari sisi moneter maupun fiskal tersebut berpotensi memicu dinamika arus modal antarnegara yang akan memberikan dampak lanjutan pada volatilitas nilai tukar Rupiah dan pasar keuangan," ujar Sri Mulyani, Rabu (2/2/2022).

Baca Juga:ย Sri Mulyani Ungkap Fakta Pemulihan Ekonomi Indonesia

Dengan berbagai dinamika global tersebut, ditambah kebutuhan untuk mulai melakukan exit strategy secara bertahap seiring tren pemulihan ekonomi domestik, tantangan di dalam perumusan kebijakan akan semakin tinggi.

"KSSK akan terus memperkuat koordinasi dan sinergi. Pada tahun 2022, kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang efektif akan menjadi kunci di dalam menghadapi dinamika global sekaligus menjadi bagian dari upaya mengimplementasikan exit strategy secara bertahap," tambahnya.

Baca Juga:ย 10 Negara dengan Ekonomi Terbesar Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

Keselarasan kebijakan fiskal dan moneter tersebut akan diperkuat lebih lanjut melalui sinkronisasi dengan kebijakan makroprudensial, mikroprudensial, dan penjaminan simpanan.

"KSSK akan bersama-sama mendukung Presidensi G20 Indonesia tahun 2022. Kemenkeu dan BI sebagai focal point di Finance Track dengan dukungan OJK dan LPS akan mengawal pembahasan agenda prioritas Finance Track," ucap Sri.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Adapun agenda-agenda prioritas tersebut adalah koordinasi exit strategy untuk mendukung pemulihan global, upaya penanganan dampak pandemi (scarring effects) dalam perekonomian guna mendukung pertumbuhan yang lebih kuat di masa depan, penguatan sistem pembayaran di era digital, pengembangan pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance), peningkatan sistem keuangan yang inklusif, perpajakan internasional, infrastruktur, serta penguatan arsitektur kesehatan global.

"KSSK akan kembali menyelenggarakan rapat berkala pada bulan April 2022," pungkasnya.

Sementara itu, pada periode awal pandemi, perspektif kebijakan pemerintah lebih berorientasi pada menjaga daya beli masyarakat dan mendukung ketahanan dunia usaha.

"Memasuki tahun kedua pandemi di 2021, dilakukan kalibrasi kebijakan yang mulai diarahkan pada upaya menjaga momentum pemulihan yang dilanjutkan dengan upaya mendorong percepatan pemulihan," ujar Sri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini