Share

Sri Mulyani Ungkap Fakta Pemulihan Ekonomi Indonesia

Michelle Natalia, Sindonews · Rabu 02 Februari 2022 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 02 320 2541253 sri-mulyani-ungkap-fakta-pemulihan-ekonomi-indonesia-vGbzSAoyCh.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani.(Foto: Okezone.com/KBUMN)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemulihan ekonomi Nasional terus berlanjut didukung perkembangan pandemi Covid-19 yang terkendali dan pulihnya aktivitas masyarakat.

"Perkembangan kasus harian Covid-19 yang rendah pada triwulan IV 2021 mendorong pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sehingga mendukung berlanjutnya pemulihan aktivitas ekonomi," ujar Sri yang juga Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu(2/2/2022).

Baca Juga: 10 Negara dengan Ekonomi Terbesar Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

Kondisi ini, tercermin pada perkembangan indikator dini hingga Desember 2021, antara lain mobilitas masyarakat yang melampaui level prapandemi, keyakinan konsumen yang kuat, penjualan eceran yang meningkat,

Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang bertahan di zona ekspansif, konsumsi listrik sektor industri dan bisnis yang meningkat, serta kinerja positif penjualan kendaraan bermotor dan semen.

"Laju inflasi tetap rendah dengan IHK 2021 di level 1,87% (yoy), di bawah kisaran sasaran 3,0%±1%. Surplus neraca perdagangan berlanjut di Desember 2021 dan secara akumulatif di tahun 2021 mencapai USD35,34 miliar," terangnya.

Baca Juga: Siap-Siap! Pemerintah Buka Pintu Masuk Internasional di Bali Mulai 4 Februari

Cadangan devisa tercatat berada pada level USD144,9 miliar, setara 8 bulan impor barang dan jasa. Perkembangan tersebut turut ditopang oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global dengan PMI, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel yang tetap kuat.

"Namun demikian, terdapat potensi risiko yang perlu diwaspadai, baik dari sisi domestik maupun global. Potensi risiko dari sisi domestik terutama terkait kenaikan kasus Covid-19," ungkap Sri.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sementara potensi risiko global antara lain gangguan rantai pasok di tengah kenaikan permintaan yang mendorong peningkatan tekanan inflasi terutama akibat kenaikan harga energi.

"Serta berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global sejalan dengan percepatan kebijakan normalisasi the Fed dalam merespons tekanan inflasi AS yang meningkat serta peningkatan tensi geopolitik di kawasan Baltik," pungkas Sri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini