Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menabung VS Investasi di Tahun Macan Air

Menabung VS Investasi di Tahun Macan Air
Menabung atau investasi di tahun macan air (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA – Memasuki bulan Februari, sebagian masyarakat Tanah Air dan dunia baru saja merayakan Tahun Baru Imlek yang dilambangkan dengan Macan Air. Momentum awal tahun ini bisa dijadikan awal untuk memulai berinvestasi. Lantas, mengapa kita harus berinvestasi?

Berinvestasi adalah cara untuk menjaga nilai uang atau untuk mempertahankan nilai aset dari inflasi. Biasanya orang yang memiliki penghasilan (income), langkah selanjutnya yang ia lakukan setelah memenuhi kebutuhan hidupnya adalah menyisihkan dana yang dimiliki dengan menyimpan uang di bank (menabung). Namun, ternyata tabungan lebih berfungsi sebagai tempat menyimpan uang, bukan mempertahankan nilai uang.

Seiring berjalannya waktu, nilai uang akan tergerus oleh inflasi, yaitu kenaikan harga-harga barang dan jasa. Contoh, jika saat ini uang senilai Rp200 juta bisa untuk membeli satu unit kendaraan baru, dalam periode lima tahun ke depan, belum tentu uang senilai yang sama bisa untuk membeli satu unit kendaraan dengan spesifikasi dan bahkan harga yang sama. Begitupun dengan biaya sekolah misalnya, jika saat ini membayar uang pangkal masuk universitas membutuhkan biaya Rp50 juta, dalam lima tahun lagi diperkirakan akan naik tiga kali lipat karena rata-rata uang pangkal pendidikan naik sekitar 10-15% per tahun.

Jika kita hanya menaruh uang di bank dalam bentuk tabungan, bisa saja rencana masa depan yang sudah dipersiapkan tidak sesuai rencana. Salah satu cara untuk mengikuti inflasi dengan mengalokasikan dana ke dalam produk investasi. Jika menabung di bank, nasabah mendapatkan imbalan dalam bentuk bunga yang besarnya hanya 2-3%. Sementara produk investasi portofolio di pasar modal umumnya bisa memberikan imbal hasil di atasnya, sesuai jenis produk investasi.

Investasi saham misalnya, memberikan potensi imbal hasil di atas bunga deposito. Return saham bisa dilihat dari pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Selama rentang 10 tahun terakhir, pertumbuhan IHSG tertinggi terjadi pada tahun 2014 sebesar 22,3% (return saham berdasarkan kenaikan indeks saham tertinggi dalam rentang waktu 2011-2021). Namun, harus diingat, semakin tinggi return investasi, semakin besar pula risiko investasi. Sesuai pepatah dalam dunia investasi, “High risk high return, low risk low return”.

Berinvestasi di pasar modal menjadi salah satu alternatif bagi investor untuk mendapatkan imbal hasil yang sesuai dengan tujuan investasinya. Ada beberapa pilihan investasi, yaitu saham, obligasi korporasi, surat utang negara, produk derivatif saham dan obligasi, reksa dana, ETF, dan produk investasi lainnya yang terus berkembang.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement