JAKARTA - Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 23 sudah dibuka sejak Kamis (17/2/2022).
Diketahui, pemerintah kembali melanjutkan program Kartu Prakerja tahun 2022 untuk meningkatkan skill SDM Indonesia.
Karena Kartu Prakerja ini tak hanya untuk yang belum dapat pekerjaan, tapi yang sudah bekerja bisa menikmati fasilitasnya juga.
Untuk yang ingin mendaftar bisa langsung kunjungi situs resmi www.prakerja.go.id.
BACA JUGA:5 Fakta Kartu Prakerja Gelombang 23 Dibuka, Ada Cara Dapat Rp3,5 Juta
Lalu, calon peserta melakukan pendaftaran sesuai yang diarahkan di situs tersebut.
Berikut ini dirangkum Okezone.com terkait Kartu Prakerja Gelombang 23, Sabtu (19/2/2022):
1. Jumlah Kuota Peserta
Dalam Kartu Prakerja Gelombang 23 ini disediakan kuota sebanyak 500 ribu orang.
Hal itu dikonfirmasi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
"Program Kartu Prakerja Gelombang 23 secara resmi dibuka. Gelombang 23 dibuka dengan kuota sebanyak 500 ribu orang. Gelombang selanjutnya akan dibuka dengan jumlah kuota yang sama,” kata Airlangga.
2. Alokasi Khusus di Gelombang 23
Komite telah memutuskan untuk memprioritaskan penambahan alokasi pada 212 kabupaten/kota kemiskinan ekstrem.
Alasannya karena melalui Kartu Prakerja dapat mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk dapat terlepas dari jerat kemiskinan ekstrem.
Sehingga, program Kartu Prakerja akan memberikan alokasi khusus kepada 50 ribu Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI).
“Ini memberikan jaminan kepada mereka karena sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk pekerjaan itu,” ucap Airlangga.
3. Dapat 3,5 Juta
Bagi peserta yang lolos seleksi Kartu Prakerja gelombang 23 akan mendapatkan bantuan dengan total Rp3,55 juta.
“Adapun rinciannya biaya pelatihannya Rp1 juta, insentif Rp2,4 juta dan insentif survei Rp150.000,” beber Airlangga.
4. Bisa Direplika Negara Lain
Airlangga menjelaskan kalau Program Kartu Prakerja ini bisa dicontoh oleh negara lainnya.
Dia menyebutkan itu dalam Presidensi G20 Indonesia tahun ini.
Dia berharap program Kartu Prakerja diharapkan dapat menjadi modelling di negara-negara berkembang lainnya.
“Semua ini terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua tahun dan tentu ekosistem ini akan terus terus berkembang serta memberikan nilai dan manfaat yang lebih besar bagi angkatan kerja di Indonesia,” ucap Airlangga.
(Zuhirna Wulan Dilla)