Share

Invasi Rusia ke Ukraina, Curhat Pekerja Tak Bisa Bayar Cicilan Rumah

Rabu 02 Maret 2022 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 02 320 2555015 invasi-rusia-ke-ukraina-curhat-pekerja-tak-bisa-bayar-cicilan-rumah-aGmIM3f2yB.png Mata Uang Rusia Anjlok Akibat Perang. (Foto: Okezone.com/BBC Indonesia)

JAKARTA - Invasi Rusia ke Ukraina mendatangkan banyak sanksi dari berbagai negara. Hal ini pun membuat kekhawatiran besar jika perang tersebut terus berlanjut.

"Jika saya bisa meninggalkan Rusia sekarang, saya ingin melakukannya. Tapi saya tidak bisa berhenti dari pekerjaan," kata Andrey, dilansir dari BBC Indonesia, Rabu (2/3/2022).

Pria mengaku tidak sanggup membayar cicilan kredit rumahnya di Moskow akibat suku bunga telah meningkat tajam.

Baca Juga: Emas Dekati Harga USD2.000/Ounce

Bahkan jutaan warga Rusia seperti Andrey mulai merasakan dampak rangkaian sanksi yang diterapkan negara-negara Barat sebagai hukuman terhadap Rusia karena Moskow menginvasi Ukraina.

"Saya berencana menemukan klien baru di luar negeri secepatnya dan pergi dari Rusia dengan yang saya simpan untuk cicilan pertama," kata Perancang Industri Berusia 31 tahun itu.

"Di sini saya takut, orang-orang ditangkap karena bersuara menentang 'garis partai'. Saya merasa malu (dengan invasi Rusia) dan saya tidak memilih mereka yang berkuasa," tambahnya.

Baca Juga: Naik 7%, Harga Minyak Capai Level Tertinggi di USD104,9/Barel

Seperti Andrey, orang-orang yang diwawancarai dalam artikel ini tidak kami sebutkan nama lengkapnya atau perlihatkan wajahnya untuk alasan keamanan. Beberapa nama juga telah diubah.

Rangkaian sanksi yang menghantam Rusia disebut sebagai 'perang ekonomi', tujuannya mengucilkan Rusia dan menciptakan resesi parah di negara tersebut. Para pemimpin negara-negara Barat berharap aksi itu dapat mengubah pikiran Kremlin soal invasi ke Ukraina.

Akibat sanksi-sanksi tersebut, rakyat awam Rusia kini merasakan dampaknya. Isi tabungan mereka terkuras dan hidup mereka terganggu.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sementara itu, Seorang Manajer Proyek di Moskow Daria mengaku dirinya tidak bisa menggunakan layanan kereta bawah tanah.

"Saya selalu membayar menggunakan ponsel, tapi sekarang tidak bisa. Ada banyak orang yang punya masalah sama. Ternyata pintu masuk ke kereta bawah tanah dioperasikan bank VTB yang kena sanksi sehingga tidak menerima Google Pay dan Apple Pay," papar Daria.

"Saya harus membeli kartu metro. Saya juga tidak bisa membayar di toko hari ini karena alasan yang sama," imbuhnya.

Warga Rusia pun kini sulit mengakses layanan kereta bawah tanah dan melakukan pembayaran di toko akibat rangkaian sanksi.

Di sisi lain, Rusia telah menaikkan suku bunganya hingga mencapai 20% guna menyiasati nilai tukar mata uang Rubel yang merosot tajam akibat rangkaian sanksi. Bursa saham masih ditutup di tengah kekhawatiran banyak pihak bahwa akan terjadi penjualan saham besar-besaran.

Kremlin menegaskan bahwa Rusia punya cukup sumber daya untuk melawan rangkaian sanksi, tapi pernyataan itu diragukan.

Sepanjang akhir pekan lalu, Bank Sentral Rusia memohon rakyat agar tetap tenang guna mencegah terjadinya aksi penarikan uang besar-besaran.

"Tidak ada dollar, tidak ada rubel—nihil! Ya, memang ada rubel tapi saya tidak tertarik," kata Anton saat sedang antre di sebuah ATM di Moskow.

"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya khawatir kami sekarang menjelma menjadi Korea Utara atau Iran," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini