Share

Keterampilan Terbatas, 23 Juta Pekerja di Indonesia Terancam Digantikan

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Rabu 02 Maret 2022 15:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 02 320 2555299 keterampilan-terbatas-23-juta-pekerja-di-indonesia-terancam-digantikan-qFmCDCtE7o.jpg Tenaga Kerja di Indonesia Mayoritas Masih Low Skill Worker. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Angkatan kerja di Indonesia masih didominasi oleh low skill worker. Hal ini yang membuat kualitas tenaga kerja di Indonesia terbatas.

"Angkatan kerja masih didominasi low skill worker. Di mana 56% berpendidikan SMP ke bawah. Akibatnya keterampilan digital tenaga kerja juga terbatas. Hal tersebut juga menyebabkan sekitar 23 juta pekerja di Indonesia akan rentan digeser oleh otomatisasi," ujar Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan UMKM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Mohammad Rudy Salahuddin, di acara Peluncuran Studi Lazada 2021 secara virtual, Rabu (2/3/2022).

Baca Juga: Terungkap! Ada Perusahaan Tipu Karyawan Diimingi Gaji Rp680 Juta, Ini Modusnya

Dia juga menyebut bahwa secara nasional digital competitivenes index atau indeks daya saing digital di Indonesia relatif masih rendah yakni berada peringkat 56 dari 63 negara.

Menghadapi hal tersebut, Rudy mengatakan, pemerintah mencoba untuk melakukan upaya peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui beberapa program pelatihan dan pendidikan.

Baca Juga: Digitalisasi Bisa Ciptakan 45 Juta Pekerjaan Baru

Dia bilang, upaya tersebut di antaranya melalui reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi, serta melalui program Kartu Prakerja dan Digital Talent Scholarship.

Dalam rangka pengembangan SDM yang unggul dan kompeten, Rudy juga mengatakan pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Untuk itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak terutama dari pelaku usaha sebagai end-user dari tenaga kerja.

"Oleh karena itu, pemerintah akan terus mendorong swasta untuk dapat berpartisipasi secara aktif untuk memberikan kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi untuk memenuhi digital talent," jelasnya.

"Misalnya, dengan memasukkan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) sebagai perwakilan dari industri ke dalam anggota pengarah pada Komite Nasional Vokasi atau Tim Koordinasi Nasional Vokasi, sehingga KADIN memiliki kewenangan untuk turut menentukan kebijakan Vokasi," pungkas Rudy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini