Share

Tanggapan Emak-Emak Usai HET Minyak Goreng Kemasan Dicabut

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Jum'at 18 Maret 2022 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 18 320 2563919

BEKASI - Pemerintah menetapkan harga minyak goreng kemasan sesuai dengan harga keekonomian dan mencabut harga eceran tertinggi (HET).

Pasca ditetapkannya kebijakan tersebut, minyak goreng kemasan penuh di rak penyimpanan ritel moden.

Berdasarkan pantauan MNC Portal Indonesa di toko ritel Bekasi hari ini, Jumat (18/3/2022), minyak goreng tersusun rapih dengan label harga baru yakni di kisaran Rp44.750 - Rp49.500 per 2 liter (tergantung merek).

 BACA JUGA:Minyak Goreng Curah Masih Langka! Sekalinya Ada Dijual Rp18.000/Liter

Untuk merek Bimoli ukuran 3 liter dijual seharga Rp49.500, Sunco Rp46.900, Kunci Mas Rp44.750, dan Tropical Rp47.500.

Yang berbeda dari situasi saat ini justru rak penyimpanan dijauhi oleh ibu-ibu.

Padahal dulu saat minyak goreng ditetapkan HET, rak penyimpanan minyak goreng diserbu bahkan sampai antre.

Salah satu pembeli yang bertolak dari rak penyimpanan minyak goreng adalah Sofia (52).

Dia mengaku tak jadi membeli minyak goreng lantaran harganya yang mahal diluar perkiraannya.

"Nggak jadi. Mahal, nggak sesuai. Biasanya saya beli Sunco, Bimoli, Kunci Mas. Kemarin saya ke sini harganya sekitaran Rp39.000 (ukuran 2 liter), sekarang udah Rp44.700," ujarnya.

Sofia bercerita, sebelum dia datang ke ritel ini, dia sudah berencana akan membeli beberapa item untuk keperluan berdagang.

Namun sayangnya, ketika melihat harga yang melonjak, dia mengurungkan niat membeli.

"Saya kira harganya masih sama. Makaya saya bilang sama temen saya 'ayo kita kejar', eh malah mahal," ucapnya.

Diketahui, pemerintah mencabut kebijakan HET karena dari hasil evaluasi malah menyebabkan kelangkaan.

Menurut Sofia, lebih baik seperti itu. Karena dari pengalamannya, saat pemerintah menetapkan HET minyak goreng, stok di ritel susah di dapat.

 BACA JUGA:HET Minyak Goreng Dicabut, Ini Tanggapan Pedagang Pasar

Namun saat kebijakan dicabut, minyak goreng justru melimpah.

"Kalau saya pribadi mending begini, barangnya ada. Mahal nggak papa. Tapi jangan mahal banget. Kalau kemarin pas harganya Rp 28.000, susah dapetnya. Udah ngantre jam 6 pagi besok jam 6 pagi lagi. Tetap aja nggak dapet," ungkapnya.

Sementara itu, terkait kebijakan pemerintah yang baru yakni memberikan subsidi minyak goreng curah seharga Rp 14.000 per liter, Sofia menilai itu langkah yang baik untuk membantu masyarakat kelas bawah.

"Itu sudah bagus. Kan jadi bisa dimanfaatkan sama pedagang kaki lima, kasian. Kalau untuk orang kelas menengah ke atas, mereka kan bisa beli yang kemasan. Itu pun nggak seberapa mereka butuhnya. Kalau pedagang kaki lima pasti kan butuhnya banyak jadi dengan minyak curah yang disubsidi bisa membantu mereka," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini