Share

Curhat Pedagang Pecel Lele Ungkap Alasan Gugat ke MK soal Minyak Goreng

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Selasa 29 Maret 2022 17:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 29 320 2569868 curhat-pedagang-pecel-lele-ungkap-alasan-gugat-ke-mk-soal-minyak-goreng-8RMmwtj8Lc.jpg Pedagang pecel lele gugat ke MK soal minyak goreng. (Foto: Okezon)

JAKARTA - Seorang pedagang pecel lele, bernama Basri menggugat kelangkaan serta tingginya harga minyak goreng ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Secara eksklusif dia bercerita kepada MNC Portal Indonesia melalui sambungan telepon hari ini, Selasa (29/3/2022).

Dia mengungkapkan gugatannya tersebut karena banyak rekan sejawat termasuk dirinya sendiri kesulitan mendapatkan minyak goreng baik kemasan maupun curah.

 BACA JUGA:Duh! Banyak yang Tak Dapat, Masyarakat Minta Jatah Minyak Goreng Subsidi

Di mana minyak goreng merupakan bahan bakunya dalam menyajikan hidangan.

"Sejak adanya pandemi, saya dan teman-teman pedagang pecel lele lainnya mengeluh kesulitan berjualan. Daya beli masyarakat menurun. Ditambah lagi sekarang-sekarang ini harga minyak goreng mahal. Cari yang murah susah banget," katanya.

Dia meenuturkan, selama ini membeli minyak goreng kemasan di pasar langganannya.

Namun, terkadang barangnya tidak tersedia, hingga akhirnya dia berkeliling mencari ke ritel-ritel modern maupun agen.

Karena barang tersebut sulit didapat, Basri beralih ke minyak goreng curah yang sebenarnya minyak tersebut tidak biasa dia pakai untuk menggoreng lele.

"Saya biasa langganan itu kan di pasar. Tapi kadang barangnya nggak ada. Terus saya cari ke toko-toko kue, hypermart, ritel-ritel lain yang ada disekitar Probolinggo," katanya.

Dia menyebut, ketergantungannya terhadap minyak goreng kemasan sangat tinggi. Lantaran dirinya mengendepankan kebersihan pada hidangannya.

Maka dari itu ia terbebani dengan kondisi harga minyak goreng yang melambung dari harga normal.

"Untuk menjaga kualitas itu kan, pakai minyak goreng kemasan lebih jernih, awet lagi. Sementara curah itu kan, kalau kita pakai untuk dua kali goreng, minyaknya sudah hitam," jelasnya.

Adapun minyak goreng kemasan yang saat ini dia beli dikisaran Rp 40.000 per liter. Di mana harga itu melompat jauh dari yang biasanya dibeli.

Karena tingginya harga minyak goreng tersebut, Basri mengaku jadi tidak aktif berjualan.

"Saya jadi jarang jualan, kadang buka, kadang tutup. Ya abis gimana," imbuh pedagang pecel lele yang berjualan di Paiton, Probolinggo, Jawa Timur itu.

Akibatnya, omzetnya anjlok 50 persen. Dari yang sebelumnya Rp15 juta sehari, menurun jadi Rp 7,5 juta.

Dari tuntuntan yang dilayangkan ke Mahkamah Konstitusi, dia berharap pemerintah bisa memihak kepada rakyat kecil terutama para pedagang makanan yang ketergantungan dengan minyak goreng khususnya kemasan.

"Harapannya paling tidak pemerintah bisa memihak ke kami. Kemudian harga minyak kemasan bisa turun dan barangnya mudah dijangkau," pungkasnya.

Kemudian pada kesempatan itu, Penerima Kuasa, Ahmad Irawan menyampaikan, dari keluhan tersebut, Basri yang menjadi pemohon mengajukan permohonan untuk melakukan pengujian Pasal 29 Ayat (1) UU No 7 Tahun 2024 tentang Perdagangan ke Mahkamah Konstitusi.

Permohonannya telah didaftarkan ke MK dan saat ini sedang diproses oleh Kepaniteraan MK untuk selanjutnya diregistrasi dan disidangkan oleh MK.

Ahmad memaparkan, pasal yang sedang diuji tersebut pada pokoknya mengatur tentang penyimpanan barang kebutuhan pokok dalam jumlah dan waktu tertentu dalam hal terjadi keadaan barang langka, terjadi gejolak harga dan terjadi hambatan lalu lintas perdagangan barang.

“Ketentuan tersebut memiliki masalah konstitusional dan struktural sehingga terjadi situasi seperti sekarang minyak goreng menjadi langkah dan mahal di pasar,” ucapnya.

"Kami berharap permohonan kami bisa mendapat titik terang," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini