"Meskipun ini adalah rilis terbesar sejak tahun 1980, namun pada akhirnya akan gagal mengubah fundamental di pasar minyak," kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan, dilansir Reuters, Jumat (8/4/2022).
Lebih jauh, pasar juga terus mencermati risiko ketidakpastian atas permintaan yang melambat di China. Diketahui, sejumlah kota Negeri Tirai Bambu telah lockdown karena gelombang terbaru infeksi virus corona.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Merosot, Brent Dibanderol USD106/Barel
"Hanya waktu yang bisa memberikan jawaban yang jelas," kata analis dari Haitong Futures.
Pada saat yang sama, pertimbangan Uni Eropa terkait embargo minyak dan batu bara dari Rusia, menyusul akan membatasi penurunan harga minyak dalam waktu dekat.
"Jika ada tekanan sanksi Uni Eropa terhadap minyak Rusia, kita prediksi minyak mentah Brent bisa tembus USD120 dalam sekejap," tegas Stephen Innes, direktur pelaksana SPI Asset Management.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.