Share

Sri Mulyani Ungkap 'Obat Kuat' Ekonomi Indonesia di Tengah Perang

Antara, Jurnalis · Rabu 13 April 2022 10:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 13 320 2578183 sri-mulyani-ungkap-obat-kuat-ekonomi-indonesia-di-tengah-perang-rKW4qx4qMc.jpg Sri Mulyani sebut ekonomi Indonesia tetap kuat (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih tetap kuat di tengah gejolak global. Ekonomi RI tetap kokoh meskipun terjadi perang antara Rusia dan Ukraina.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Rabu (13/4/2022).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih akan tetap kuat ini didukung oleh kegiatan konsumsi masyarakat atau rumah tangga, kegiatan investasi serta dukungan belanja pemerintah.

Belanja negara sendiri hingga Februari 2022 mencapai Rp282,7 triliun atau 10,4% dari pagu APBN tahun ini serta membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi hingga 13%.

Membaiknya realisasi belanja negara didukung belanja pemerintah pusat yang terealisasi Rp172,2 triliun mencakup belanja operasional kementerian/lembaga (K/L) serta belanja program K/L terutama belanja infrastruktur dan bansos.

Penyaluran bansos dalam hal ini mengalami kenaikan berupa pelaksanaan bantuan Program Indonesia Pintar, Program Keluarga Harapan tahap pertama dan pencairan bantuan Kartu Sembako.

Untuk belanja non K/L terealisasi mencapai Rp93,6 triliun terutama untuk pembiayaan subsidi energi yang meningkat.

Meski demikian, ia tak memungkiri terdapat sejumlah risiko rambatan dari kondisi global yang akan berpotensi mempengaruhi kinerja perekonomian dalam negeri.

Hal itu seiring eskalasi perang Ukraina dan Rusia yang telah menahan ekspektasi positif terhadap pemulihan ekonomi global seiring meredanya COVID-19.

Perbaikan ekonomi global pun akan mengalami tekanan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya disertai volatilitas pasar keuangan yang meningkat.

Oleh sebab itu, Sri Mulyani menegaskan APBN akan terus melakukan respon secara aktif dan memposisikan menjadi shock absorber dalam mengantisipasi dan menghadapi gejolak serta tekanan global yang berlangsung.

“APBN menjadi shock absorber dengan memberikan dukungan stabilitas harga dan mendukung daya beli termasuk kelompok paling rentan melalui bansos,” tegasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini