Share

Sri Mulyani Butuh Rp4.060 Triliun Bangun Infrastruktur RI, dari Mana Uangnya?

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 14 April 2022 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 14 320 2578873 sri-mulyani-butuh-rp4-060-triliun-bangun-infrastruktur-ri-dari-mana-uangnya-vBMYeLHtIx.jpg Sri Mulyani butuh uang untuk infrastruktur RI. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur juga membutuhkan pendanaan yang sangat besar.

RPJMN 2020-2024 menunjukkan bahwa kebutuhan pendanaan untuk infrastruktur Rp6.445 triliun.

APBN dalam hal ini menyediakan Rp2.385 triliun atau 37% dari kebutuhan.

Jika dihitung selisihnya, maka masih butuh dana sekitar Rp4.060 triliun. Namun, Sri menyebutkan, kondisi ini belum pada saat negara menghadapi pandemi, di mana APBN terpaksa dan dipaksa kemudian berpindah prioritas kepada masalah kesehatan dan bantuan sosial serta pemulihan ekonomi.

"Oleh karena itu jelas, untuk meneruskan pembangunan tidak bisa terus menerus bergantung pada APBN. Peran BUMN jelas juga penting dan juga swasta tentunya sangat menentukan," ungkapnya dalam Kunjungan Presiden dan Penandatanganan Perjanjian Induk antara INA dengan Hutama Karya pada Kamis (14/4/2022).

 BACA JUGA:Sri Mulyani Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,5%-5,2% pada Kuartal I-2022

Dia menjelaskan, BUMN berkontribusi penting, sehingga harus nmeningkatkan kapasitasnya dan tetap bisa menjaga keuangan mereka.

"Pembentukan INA adalah sebuah momentum penting di mana Indonesia mengembangkan creative financing selanjutnya, yaitu dengan membuat platform yang sangat kredibel untuk bisa bekerja sama dengan investor-investor dari berbagai sumber dengan tata kelola yang mengikuti standar internasional, maka kita mampu untuk menarik investment ekuitas yang bersifat jangka panjang. Yaitu melakukan investasi tidak untuk dilepas dalam jangka pendek," ucapnya.

 BACA JUGA:Meski Melemah, Sri Mulyani Klaim Rupiah Lebih Kuat dari Ringgit hingga Rupee

Dia menyebutkan, ini akan sangat menambah stabilitas bagi pembangunan Indonesia.

"Keinginan investor untuk mengambil risiko bersama tentu perlu juga diberikan keyakinan, maka dari itu, strategi co-investasi yang bisa meningkatkan modalitas investasi kita, terutama dana yang sudah dimasukkan di dalam INA menjadi pertaruhan kemampuan Indonesia untuk memberikan keseimbangan di satu sisi, yaitu meyakinkan investor mengenai tingkat risiko yang acceptable dan juga di satu sisi memberikan jaminan kepastian investasi," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini