Share

Lockdown di Shanghai, Cerita Warga Kesulitan Dapat Makan hingga Beli Daging Busuk Rp800 Ribu

Selasa 26 April 2022 07:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 26 320 2585211 lockdown-di-shanghai-cerita-warga-kesulitan-dapat-makan-hingga-beli-daging-busuk-rp800-ribu-wOPE5UkhDI.png Lockdown di Shanghai. (Foto: Okezone.com/BBC)

JAKARTA - Kasus Covid-19 di Shanghai melonjak. Bahkan masyarakat mulai kesulitan mendapat akses makanan karena kebijakan penguncian wilayah atau lockdown di Shanghai.

Seorang penduduk Shanghai membeli dua potong daging babi yang telah busuk seharga Rp883.000 di tengah sulitnya mengakses makanan selama karantina wilayah.

"Saya membayar 400 Yuan (Rp883.000) untuk dua daging babi busuk," ujar Seorang Warga Shanghai, Will Liu, dilansir dari BBC Indonesia, Selasa (26/4/2022).

Dirinya pun merasa kesal dengan makanan yang dia pesan secara daring selama pekan kedua karantina wilayah alias lockdown di kota itu.

Baca Juga: Dolar AS Meroket, Yuan China Anjlok Tertekan Covid-19 Shanghai

China tengah berupaya mencapai target bebas Covid-19. Namun Shanghai kini memasuki pekan kelima karantina wilayah untuk memberantas Covid-19 di kawasan sentra bisnis dan finansial yang dihuni oleh 25 juta orang.

Berdasarkan pedoman pemerintah, setiap orang harus memesan lebih dulu makanan dan minuman, kemudian menunggu pengiriman sayur, daging, dan telur dari pemerintah.

Namun perpanjangan masa karantina wilayah telah membanjiri permintaan layanan pengiriman, toko kelontong online, bahkan distribusi pasokan pangan dari pemerintah.

Sementara seorang mahasiswi Indonesia yang telah kuliah selama lima tahun di ibu kota finansial China itu mengatakan sempat mengalami kesulitan di awal lockdown.

Celline Topan, yang tengah mengambil S2 untuk periklanan, mengatakan sejak minggu terakhir Maret, ia belum keluar dari apartemen tempat tinggalnya.

Sebagai persiapan lockdown, saat itu ia membeli persediaan makanan yang kemudian sempat menipis karena lockdown terus diperpanjang.

"Pertamanya itu pemerintah sini bilang akan lockdown selama lima hari, tapi habis lima hari itu, sampai sekarang sekarang masih dilockdown terus. Jadi di awal pemerintah gak kasih tahu akan dilockdown sampai kapan," kata Celline.

Baca Juga: Cerita Kelaparan dan Kemarahan Bayangi Shanghai Akibat Lockdown Covid-19

Celline mengatakan sempat menangkap kekesalan warga, terutama pada awal lockdown, yang kini telah masuk minggu kelima.

"Di awal-awal banyak banget kekurangan barang, kita gak bisa makan, kekurangan bahan pokok seperti sayur-sayuran, daging dan lain-lain. Tapi abis itu pemerintah memberikan bahan pokok gratis, tiap minggu mereka kasih. Jadi sekarang, menurutku sudah mulai stabil," tambah Celline.

Sementara itu, Konsul Jendral Indonesia di Shanghai, Denny Kurnia mengatakan saat ini diperkirakan terdapat sekitar 300 WNI di kota itu. Tapi melalui pantauan sejauh ini dengan kemungkinan ada WNI yang tidak lapor atau tidak masuk grup Wechat.

"Sejauh ini tidak ada kasus WNI yang khusus minta makanan karena tidak memiliki," ujar Dennya.

Di luar pengalaman mahasiswi Indonesia, Celline Topan itu, BBC menerima banyak pesan termasuk melalui pesan pribadi dari Shanghai mengenai betapa sulitnya memperoleh makanan dan obat-obatan sejak karantina wilayah dimulai.

Layanan pesan antar makanan telah kewalahan seiring terus diperpanjangnya karantina wilayah di Shanghai.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

Layanan pesan-antar makanan kewalahan

Will Liu, 28, yang berasal dari Taiwan telah menetap di Shanghai selama hampir tujuh tahun. Kepada BBC China, dia mengatakan bahwa pandemi tidak banyak mengubah kehidupannya sampai akhir Maret lalu.

"Pemerintah terus memperpanjang karantina wilayah yang seharusnya berlangsung lima hari menjadi lebih panjang. Kehidupan semua orang menjadi kacau," kata dia.

Will telah menyiapkan cukup makanan untuk karantina wilayah selama lima hari, sesuai durasi yang awalnya diumumkan oleh pemerintah.

Dia hanya memiliki microwave untuk memasak di rumahnya, sehingga ketika karantina terus diperpanjang, Will pun kehabisan makanan.

"Pada pekan kedua karantina wilayah, saya menemukan iklan dari situs pesan antar yang menjual daging babi seharga 400 Yuan (Rp883.000). Saat itu saya sangat lapar, sehingga saya memesannya. Ternyata yang saya dapatkan adalah dua potong daging babi busuk," ujarnya.

"Saya akhirnya bisa mendapatkan uang saya kembali, tetapi saya merasa kecewa dengan semua ini," tuturnya.

Di media sosial Weibo -yang digunakan luas di China—serta sejumlah media sosial lainnya, mulai banyak unggahan mengenai sulitnya mendapatkan makanan di Shanghai sejak karantina wilayah dimulai secara parsial pada 5 April.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini