Layanan pesan-antar makanan kewalahan
Will Liu, 28, yang berasal dari Taiwan telah menetap di Shanghai selama hampir tujuh tahun. Kepada BBC China, dia mengatakan bahwa pandemi tidak banyak mengubah kehidupannya sampai akhir Maret lalu.
"Pemerintah terus memperpanjang karantina wilayah yang seharusnya berlangsung lima hari menjadi lebih panjang. Kehidupan semua orang menjadi kacau," kata dia.
Will telah menyiapkan cukup makanan untuk karantina wilayah selama lima hari, sesuai durasi yang awalnya diumumkan oleh pemerintah.
Dia hanya memiliki microwave untuk memasak di rumahnya, sehingga ketika karantina terus diperpanjang, Will pun kehabisan makanan.
"Pada pekan kedua karantina wilayah, saya menemukan iklan dari situs pesan antar yang menjual daging babi seharga 400 Yuan (Rp883.000). Saat itu saya sangat lapar, sehingga saya memesannya. Ternyata yang saya dapatkan adalah dua potong daging babi busuk," ujarnya.
"Saya akhirnya bisa mendapatkan uang saya kembali, tetapi saya merasa kecewa dengan semua ini," tuturnya.
Di media sosial Weibo -yang digunakan luas di China—serta sejumlah media sosial lainnya, mulai banyak unggahan mengenai sulitnya mendapatkan makanan di Shanghai sejak karantina wilayah dimulai secara parsial pada 5 April.
(Feby Novalius)