Share

Kembangkan Ekonomi Digital, RI Butuh Investasi Infrastruktur

Antara, Jurnalis · Selasa 26 April 2022 15:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 26 320 2585520 kembangkan-ekonomi-digital-ri-butuh-investasi-infrastruktur-NbJYiE4KuP.jpg RI butuh investasi infrastruktur digital (Foto: Okezone)

JAKARTA – Indonesia masih membutuhkan investasi infrastruktur digital masih diperlukan untuk mendukung perkembangan ekonomi digital. Investasi infrastruktur digital dibutuhkan terutama bagi negara-negara anggota G20.

"Khususnya investasi pada jaringan pita lebar berkecepatan tinggi yang sangat penting untuk mendukung ekonomi digital G20 yang inovatif dan inklusif," kata Lead Co-Chair T20 Indonesia Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Selasa (26/4/2022).

Untuk bertransformasi secara digital, kekurangan infrastruktur dasar seperti listrik, internet, dan jaringan pita lebar berkecepatan tinggi cenderung masih menjadi tantangan utama di Indonesia. Selain itu, hambatan lain berupa letak geografis, administrasi, dan ketidakpastian peraturan.

"Transformasi digital perlu disertai dengan pedoman dan peraturan agar transformasi dapat meningkatkan keamanan, meningkatkan efisiensi, dan mengatasi tantangan sosial dan organisasi yang muncul," imbuh Bambang.

Transformasi digital di Indonesia juga menghadapi tantangan karena belum sepenuhnya inklusif atau menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Di samping itu dari sisi pemerintah, ia memandang masih banyak yang mempertahankan teknologi yang ketinggalan zaman atau belum di-update sehingga menyulitkan perusahaan yang ingin mengintegrasikan seluruh sistem usahanya dengan teknologi baru.

"Ancaman terhadap keamanan dunia maya juga meningkat ketika kita terus menggunakan sistem lama atau teknologi yang sudah ketinggalan zaman," katanya.

Selain itu kurangnya pembaruan teknologi membuat sistem digital lebih rentan terhadap serangan dunia maya dan berpotensi membuat Indonesia kehilangan bakat baru yang muncul di pasar tenaga kerja digital.

"Budaya tempat kerja yang saat ini cenderung stagnan menjadi penghambat transformasi digital," kata Bambang Brodjonegoro.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini