Share

H-5 Lebaran, Berikut Daftar Harga Pangan yang Melambung Tinggi

Avirista Midaada, Jurnalis · Rabu 27 April 2022 15:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 27 320 2586155 h-5-lebaran-berikut-daftar-harga-pangan-yang-melambung-tinggi-ycSErFAriQ.jpg Harga Pangan Meningkat Jelang Lebaran. (Foto: Okezone.com/MPI)

MALANG - Harga kebutuhan pangan melambung tinggi jelang Lebaran. Kenaikan harga pangan mulai terjadi sebelum Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 2022.

Hal ini terlihat dari pemantauan di Pasar Tradisional Bunulrejo, oleh Wali Kota Malang Sutiaji dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang, pada Rabu (27/4/2022). Tampak beberapa sembako dan bahan pangan seperti gula, telur, hingga cabai melonjak dengan harga bervariasi.

Menurut Sutiaji, kenaikan terjadi merata di hampir seluruh komoditi sembako yang ada, seperti telur, cabai, ikan asin, ikan laut, tepung terigu, bawang merah, daging ayam, dan minyak goreng.

Baca Juga: Sidak Pasar Anyar Tangerang, Mendag Temukan Harga Pangan di Bawah Rata-Rata

"Saya sampaikan ikan asin naik, ikan laut naik, Yang kenaikannya signifikan adalah tepung terigu. Itu per kilo mengalami kenaikan hampir 20%, cabai, kemudian bawang merah," kata Sutiaji usai melakukan pemantauan di Pasar Bunulrejo, Kota Malang.

Selain komoditi tersebut, kenaikan signifikan juga terjadi pada daging ayam, telur ayam, minyak goreng, hingga ayam kampung. Pada komoditi daging ayam potong misalnya ada kenaikan sebesar Rp5.000 per kilogramnya, sedangkan kenaikan telur ayam mencapai Rp1.000 per kilogramnya.

"Gula naik sedikit, gula juga ada kenaikan tapi tidak signifikan, terus minyak goreng, dan yang naik banyak itu daging ayam, wajar. Daging ayam itu naik Rp5.000, pindah harga itu ayam kampung. Telur naik Rp1.000 per kilogram," bebernya.

Baca Juga: Mendag Pastikan Harga Pangan Stabil, dari Gula hingga Daging Sapi

Khusus untuk komoditi minyak goreng berpotensi menjadi penyumbang inflasi karena hanya yang masih tinggi. Namun ia bersyukur saat ini stok minyak goreng baik kemasan maupun curah mulai tersedia di pasaran.

"Sesungguhnya, kenaikan menjelang Ramadhan itu tidak fluktuatif itu bersyukur. Termasuk di dalamnya minyak goreng. Sementara ini yang tertinggi kenaikannya yang membawa daya ungkit inflasi itu adalah minyak goreng," ucap dia.

"Tapi ketersediaannya masih dan sudah ada, curah juga sudah ada, harganya standar, di distributor Rp 14.000, di pasar Rp 15.000, masih wajar. Untuk kemasan juga demikian," tambahnya.

Dia menyebut, kenaikan harga terjadi karena tingginya permintaan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah dan adanya kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan terjadi di hampir semua bahan pangan yang dijumpainya di pasar tradisional.

"Kenaikan itu bukan hanya karena permintaan yang tinggi menjelang Lebaran, tapi juga faktor dari kenaikan BBM. Biasanya kalau tidak ada kenaikan BBM, itu ada sembako itu naik. Tapi tidak sesignifikan ini, ini semuanya. Maka saya ketir-ketir dengan BI (Bank Indonesia), bagaimana cara pengendalian kita," terangnya.

Guna mengantisipasinya, pria kelahiran Lamongan menyatakan operasi pasar telah dilakukan oleh berbagai elemen di masyarakat. Bulog Malang dan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Malang misalnya juga beberapa kali menggelar operasi pasar, demi menyetabilkan harga.

"Operasi pasar saya kira semuanya sudah, Bulog sampai dengan kemarin dengan BI, CSR supaya ketika Idul Fitri bahan sudah ada dengan operasi pasar kemarin, Itu akan berpengaruh terhadap inflasi," tuturnya.

Dirinya mengimbau agar masyarakat tidak melakukan panic buyying atau pembelian dalam jumlah besar untuk ditimbun selama Hari Raya Idul Fitri.

"Tidak ada panic buyying. Tidak ada kepanikan untuk mengambil barang seakan-akan barang itu tidak ada. Tidak usah ada kepanikan, barang tersedia, elpiji, bensin, kebutuhan lainnya juga, bahan pokok lain," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini