Share

Wall Street Lesu, Investor Khawatirkan Kebijakan The Fed

Antara, Jurnalis · Sabtu 07 Mei 2022 07:48 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 07 278 2590249 wall-street-lesu-investor-khawatirkan-kebijakan-the-fed-lIEmqNH0mH.jpg Wall Street Melemah. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA- Bursa saham AS, Wall Street semakin tertekan pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Investor pun mengkhawatirkan bahwa Federal Reserve akan lebih agresif terhadap kebijakannya dalam menaikkan suku bunganya untuk menekan inflasi AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 98,60 poin atau 0,30% menjadi 32.899,37 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 23,53 poin atau 0,57% menjadi 4.123,34 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 173,03 poin atau 1,40% menjadi 12.144,66 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor material dan konsumen non-primer masing-masing turun 1,36% dan 1,31%, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi dan utilitas masing-masing naik 2,91% dan 0,8%, hanya dua kelompok yang menguat.

Baca Juga: Wall Street 'Kebakaran', 3 Indeks Utama Anjlok

Saham teknologi juga mencatat penutupan terendah sejak 2020, atau menjadi kerugian mingguan kelima berturut-turut, penurunan beruntun terpanjang sejak kuartal keempat 2012.

Indeks S&P 500 juga membukukan kerugian mingguan kelima berturut-turut, rangkaian kerugian mingguan terpanjang sejak kuartal kedua 2011.

"Sembilan puluh lima% pendorong pasar saat ini adalah suku bunga jangka panjang," kata Pendiri dan Kepala Eksekutif Infrastructure Capital Management, Jay Hatfield, dikutip dari Antara, Sabtu (7/5/2022).

Baca Juga: Wall Street Melesat Usai Kenaikan Suku Bunga The Fed

Departemen Tenaga Kerja mencatat data pekerjaan lebih kuat dari perkiraan dengan angka penggajian nonpertanian (nonfarm payrolls) meningkat 428.000 pekerjaan pada April, dibandingkan ekspektasi 391.000 penambahan pekerjaan, menggarisbawahi fundamental ekonomi yang kuat meskipun ada kontraksi dalam produk domestik bruto pada kuartal pertama.

Tingkat pengangguran tetap tidak berubah di 3,6 persen dalam sebulan, sementara pendapatan rata-rata per jam meningkat 0,3 persen terhadap perkiraan kenaikan 0,4 persen.

"Minyak naik lagi, melanjutkan kekhawatiran inflasi yang kita lihat dan energi melawan tren pasar yang sangat lemah. Tapi harga gas alam dan minyak mentah yang lebih tinggi telah menjadi penarik bagi sektor energi tahun ini," kata Kepala Strategi Pasar LPL Financial, Ryan Detrick.

Sementara itu, saham-saham pertumbuhan megacap tergelincir, dengan beberapa pengecualian termasuk Apple Inc yang naik 0,5%, Wells Fargo & Co turun 0,5 persen memimpin kerugian di antara bank-bank besar.

Sebagian besar pedagang memperkirakan kenaikan 75 basis poin pada pertemuan bank sentral AS Juni, meskipun kepala Fed Jerome Powell mengesampingkan hal itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini