Share

Mendag: ASEAN-AS Matangkan Kerja Sama Ekonomi Digital untuk UMKM

Agustina Wulandari , Jurnalis · Jum'at 13 Mei 2022 18:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 13 11 2593847 mendag-asean-as-matangkan-kerja-sama-ekonomi-digital-untuk-umkm-ve5hndpoAK.jpg Mendag Muhammad Lutfi (kanan) dan Duta Besar USTR Katherine Tai (kiri) saat menggelar pertemuan bilateral di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (11/5) waktu setempat. (Foto: okezone.com/Kemendag)

WASHINGTON DC - Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) dan Amerika Serikat (AS) bersepakat merintis kerja sama bidang ekonomi digital. Kesepakatan tersebut merupakan hasil pertemuan bilateral antara Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi dan Duta Besar United States Trade Representative (USTR) Katherine Tai di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (11/5) waktu setempat.

Selain kerangka bilateral, pada pertemuan ini dibahas beberapa isu ekonomi yang bersifat regional dan multilateral. Kerja sama ekonomi digital, yang merupakan salah satu elemen pilar Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) yaitu pilar Fair and Resilient Trade Menjadi salah satu bahasan utama pertemuan.

Pilar IPEF lain yang juga turut dibahas adalah supply chain resilience (infrastructure, clean energy dan decarbonization) dan tax and anti-corruption. Pertemuan antara Mendag Lutfi dan Katherine Tai dilakukan di sela rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus ASEAN-Amerika Serikat pada 11-13 Mei 2022.

Lutfi mengatakan, elemen ekonomi digital menjadi isu yang sangat signifikan dalam menavigasi pemulihan arus perdagangan di kawasan. Namun, platform lintas batas ini memiliki tantangan tersendiri yang dapat memberikan tekanan cukup kuat bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).


Hal ini mengingat dinamika perdagangan internasional yang kontra produktif dengan pertumbuhan ekonomi dalam dua tahun terakhir, misalnya pandemi Covid-19, distorsi terhadap rantai pasok global dan regional, eskalasi konflik Rusia dan Ukraina, hingga melemahnya kepercayaan dunia terhadap sistem perdagangan multilateral.

“Untuk itu, perlu kerja sama seluruh negara dalam menghentikan upaya-upaya kapitalisme modern yang saat ini berkembang di platform digital,” ucapnya.

Pernyataan Lutfi tersebut menanggapi Duta Besar Katherine Tai yang menyampaikan program Amerika Serikat dalam pembangunan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik. Katherine menyatakan, Indonesia Merupakan salah satu negara yang memiliki pengaruh cukup signifikan di kawasan Asia Tenggara.

Pilar Fair and Resilient Trade mencakup penyusunan prinsip-prinsip, aturan, standar, kolaborasi terkait ekonomi digital yang dewasa ini menimbulkan tantangan serta oportunitas tersendiri.

Katherine Tai menegaskan, Pemerintah AS berupaya membangun suatu keterikatan yang didukung oleh sektor bisnis di kawasan melalui pembangunan ekonomi yang semakin tangguh, berkelanjutan, memberikan lebih banyak insentif bagi dunia usaha, dan meningkatkan inklusivitas, namun bukan sesuatu yang dipandang sebagai kebijakan anti-China.

“IPEF bukan kerangka kerja sama perdagangan tradisional dan memerlukan keterikatan yang lebih erat dalam menciptakan inovasi kerja sama perdagangan baru dengan negara atau ekonomi baru. Amerika Serikat sangat terbuka dalam mengembangkan sesuatu yang inovatif dan berbeda yang mungkin akan memiliki elemen-elemen perjanjian perdagangan sebagai platform untuk melanjutkan kolaborasi,” ucapnya.

Pada pertemuan dibahas juga beberapa isu yang menjadi perhatian Indonesia dan Amerika Serikat. Di antaranya mengenai rokok keretek, WTO, dan beberapa isu bilateral seperti generalized system of preferences (GSP), intellectual property right (IPR), dan komitmen dalam kesepakatan Indonesia-Amerika Serikat.

Pada pertemuan itu kedua perwakilan akan mengupayakan pertemuan bilateral lanjutan pada pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation Ministers Responsible for Trade (APECMRT) atau pertemuan the Twelfth WTO Ministerial Conference (MC-12) mendatang.

CM

(Wul)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini