Share

Ikuti Jejak IHSG, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp14.565/USD

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Jum'at 27 Mei 2022 15:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 27 320 2601347 ikuti-jejak-ihsg-rupiah-ditutup-menguat-ke-rp14-565-usd-hSaIlXCqjT.jpg Rupiah menguat hari ini. (Foto: Shutterstock).

JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat 47 poin di level Rp14.565 atas dolar Amerika Serikat (USD) dalam perdagangan sore ini, Jumat (27/5/2022).

Sedangkan pada perdagangan mata uang rupiah pekan depan dibuka berfluktuatif di rentang Rp14.540-Rp14.590.

Menguatnya mata uang ibu pertiwi ini karena adanya peningkatan penerimaan pajak.

"Pasar terus memantau tentang penerimaan pajak hingga 26 Mei 2022 tercatat senilai Rp679,99 triliun atau telah mencapai lebih dari separuh target penerimaan pajak tahun ini, yakni Rp1.265 triliun," kata Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam rilisnya, Jumat (27/5/2022).

 BACA JUGA:IHSG Dibuka Meroket 1,38% ke Level 6.978

Dia memaparkan, dalam empat bulan pertama tren penerimaan pajak tercatat konsisten. Bahkan, pada April 2022, penerimaan pajak melonjak menjadi Rp245,2 triliun, sementara sebelumnya penerimaan per bulan di kisaran Rp90 triliun - Rp120 triliun.

Hingga Kamis (26/5/2022), penerimaan pajak sepanjang bulan ini tercatat telah mencapai Rp112,39 triliun atau sejalan dengan tren kuartal pertama.

"Hal tersebut membuat penerimaan pajak hingga saat ini telah mencakup 53,04 persen dari target 2022," jelasnya.

Sementara, penerimaan pajak penghasilan (PPh) non migas hingga kemarin tercatat mencapai Rp416,48 triliun, sedangkan PPh migas mencapai Rp36,03 triliun. Perolehan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mencapai Rp224,27 triliun, lalu pajak bumi dan bangunan (PBB) serta pajak lainnya Rp3,21 triliun.

 BACA JUGA:Ikuti IHSG, Rupiah Menguat di Level Rp14.661/USD

Ibrahim menerangkan, meningkatnya penerimaan pajak ini, disebabkan oleh membaiknya kondisi perekonomian sehingga dapat menopang penerimaan pajak yang lebih tinggi pada tahun ini.

"Hal tersebut dapat mendukung langkah konsolidasi fiskal, di mana 2022 menjadi tahun terakhir APBN untuk mencatatkan defisit di atas 3%," imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini