Share

Jual Beli Ilegal Lahan Hutan Mukomuko Bengkulu, Rp20 Juta/Hektare

Demon Fajri, Okezone · Jum'at 03 Juni 2022 12:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 470 2604922 jual-beli-ilegal-lahan-hutan-mukomuko-bengkulu-rp20-juta-hektare-2omlq8EFmZ.jpg Jual Beli Ilegal Lahan Hutan. (Foto: Okezone.com)

BENGKULU - Ribuan Hektare (Ha) lahan di Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT), Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, diduga diperjualbelikan oknum masyarakat setempat. Kawasan hutan yang dijual itu tersebar di 15 kecamatan di wilayah.

Di antaranya, di Kecamatan Air Rami, Malin Deman, Ipuh, Sungai Rumbai, Pondok Suguh, Teramang Jaya, Selagan Raya, Penarik, Teras Terunjam, Air Dikit, Air Manjunto, V Koto dan Kecamatan Lubuk Pinang. Adapun kawasan yang diperjualbelikan secara ilegal tersebut, HPT Air Manjunto, Air Dikit, Air Ipuh I, Air Ipuh II, Air Teramang, Air Rami, dan HPK Air Manjunto.

Dugaan ini pun diungkap, Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Aprin Sihaloho.

Baca Juga: 4.000 Karyawan Perhutani Tolak SK Menteri LHK

"Dugaan jual beli secara ilegal lahan kawasan hutan tersebar di 7 hutan produksi di Mukomuko. Kita juga sudah mengumpulkan kuitansi bukti pembelian lahan kawasan yang dibeli masyarakat. Saat ini kita masih mengumpulkan data," kata Aprin, Jumat (3/6/2022).

Lahan kawasan, jelas Aprin, dijual secara ilegal oleh oknum tertentu dengan harga Rp1,5 juta per Ha. Biaya sebesar itu, sampai Aprin, untuk upah atau biaya tebang tebas lahan kawasan yang dibuka oleh oknum tersebut.

Baca Juga: Erick Thohir Rombak Direksi Perhutani, 2 Direktur Diganti

Sementara, lahan kawasan hutan per Ha yang sudah bersih, lanjut Aprin, dijual seharga Rp20 juta per Ha. Lahan kawasan yang dijual itu diduga dibeli oleh masyarakat setempat yang berada di daerah tersebut.

"Lahan kawasan itu dijual seharga Rp1,5 juta per Ha, itu untuk biaya tabang tebas. Jika terima bersih atau siap tanam per Ha dijual seharga Rp20 juta per Ha," jelas Aprin.

Total luas Hutan Produksi (HP), sambung Aprin, di bawah tanggungjawab Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Kabupaten Mukomuko, seluas 78.315 Hektare (HA), terbagi ke dalam tujuh HP.

Di mana total luas hutan itu, tegas Aprin, 70 persen lahan kawasan diduga sudah mengalami kerusakan akibat perambahan perkebunan kelapa sawit.

"Sekira 70 persen kawasan HP diduga rusak karena ditanami masyarakat dengan kelapa sawit," tegas Aprin.

Dengan adanya kejadian tersebut, jelas Aprin, dari KPHP melakukan tindakan persuasif pada warga setempat, serta belum memutuskan untuk mengambil tindakan penegakkan hukum.

"Kami sdauh mengambil langkah persuasif, agar masyarakat yang sudah terlanjut membeli untuk menghentikan aktifitasnya atau tidak membuka lahan baru," sampai Aprin.

Saat ini, kata Aprin, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mukomuko, telah mengusulkan penurunan status kawasan hutan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), untuk kawasan HP yang terlanjur dirambah diturunkan statusnya menjadi kawasan Area Peruntukan Lain (APL).

"Ada skema Perhutanan Sosial (PS), hutan desa, hutan adat, untuk mengakomodir kawasan yang sudah terlanjur dirambah tersebut. Namun itu harus diiringi syarat. Mulai dari, tidak boleh membuka lahan baru, tidak boleh mengambil kayu, serta tata batas jelas. Usulan ini harus menggunakan kelompok yang disertai KTP dan KK," jelas Aprin.

Ini Modus Jual Lahan Kawasan

Salah satu warga di Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Mukomuko, ketika ditemui jurnalis MPI, mengaku, jika dirinya sempat membeli beberapa Hektare lahan di kawasan HP dari oknum

Di mana, kata dia, satu Hektare lahan yang sudah ditebas tebang dijual dengan harga Rp15 juta per Hektare

"Saya membeli lahan dalam kawasan HP yang sudah ditebas tebang Rp15 juta per Hektare dari seseorang. Lalu, saya tanam sawit sekarang sawitnya sudah panen," ujarnya yang tidak ingin menyebutkan namanya

Lahan di kawasan hutan, kata pria berbadan kurus itu, dapat dilakukan oleh siapa saja. Modusnya, kata dia, seseorang masuk ke hutan mengambil lahan yang belum dimiliki orang lain. Lalu, lahan itu dibersihkan dan dijual seharga Rp15 juta per hektare

"Modal mereka tebang tebas atau bersihkan lahan Rp1,5 juta. Setelah bersih dijual dengan harga Rp15 juta," kata pria itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini