Share

Sri Mulyani Pede Pendapatan Negara Bisa Tembus Rp2.266,2 Triliun di 2022

Michelle Natalia, Sindonews · Selasa 07 Juni 2022 15:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 07 320 2607235 sri-mulyani-pede-pendapatan-negara-bisa-tembus-rp2-266-2-triliun-di-2022-4FJfJjgJUB.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa penerimaan negara menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa tinggi hingga akhir April 2022. Sri pun memperkirakan posisi ini masih bertahan di akhir Mei 2022.

"Outlook pendapatan negara hingga akhir tahun kita perkirakan akan mencapai Rp2.266,2 triliun, artinya ini Rp420,1 triliun di atas APBN kita, ini berita baik bahwa Indonesia memiliki pendapatan yang lebih tinggi lebih dari Rp400 triliun dibanding dalam APBN," ujar Sri dalam Rapat Kerja dengan Komite IV DPD RI di Jakarta, Selasa (7/6/2022).

Menurutnya, di sisi lain, belanja negara sendiri juga melonjak sangat tinggi. Belanja negara yang tadinya di Rp2.786 triliun diperkirakan akan melonjak ke Rp3.106,4 triliun. Komponen terbesar dari kenaikan belanja adalah subsidi dan kompensasi energi yang kenaikannya bisa sampai 5 kali lipat.

"Belanja K/L sebesar Rp948,8 triliun, memperhitungkan tambahan pagu non-RM dan realokasi/pergeseran belanja K/L dan non K/L. Belanja non K/L sendiri sebesar Rp1.352,9 triliun, yang memperhitungkan salah satunya subsidi energi Rp208,9 triliun, lebih tinggi Rp74,9 triliun dari APBN," tambah Sri.

Hal ini ditambah dengan kompensasi BBM dan listrik sebesar Rp293,5 triliun, lebih tinggi Rp275 triliun dari APBN. Adapun tambahan perlindungan sosial sebesar Rp18,6 triliun, dan realokasi belanja BUN ke K/L dan penyesuaian anggaran pendidikan.

"TKDD memperhitungkan tambahan dana bagi hasil (DBH) kepada daerah dan optimalisasi DAK fisik," ungkapnya.

Kendati demikian, Sri menekankan bahwa pelaksanaan APBN 2022 tetap perlu menurunkan defisit APBN, dimana defisit akan dijaga 4,50% PDB atau lebih rendah dari target APBN 2022 yang sebelumnya 4,85% PDB dan realisasi 2021 sebesar 4,57% dari PDB. Penurunan defisit untuk menjaga biaya utang yang naik tajam akibat inflasi dan suku bunga.

"Pembiayaan anggaran termasuk menampung tambahan pembiayaan pendidikan dan memanfaatkan tambahan SAL sebesar Rp50 triliun," pungkas Sri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini