Share

The Fed Naikkan Suku Bunga 0,75%, Sinyal Akan Terjadi Resesi Ekonomi

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Kamis 16 Juni 2022 18:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 16 278 2612875 the-fed-naikkan-suku-bunga-0-75-sinyal-akan-terjadi-resesi-ekonomi-eIoOYJJFcw.jpg The Fed Naikkan Suku Bunga 0,75%. (Foto: Okezone.com/Reuters)

MEDAN  - Bank Sentral AS, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin. Kenaikan ini membuat suku bunga acuan The FED kini menjadi 1,75%.

Menyikapi kebijakan The Fed, Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin, mengatakan kenaikan bunga acuan sebesar telah mengkikis ketidapastian di pasar keuangan. Sehingga kinerja pasar keuangan bergerak dengan arah yang lebih jelas.

"Meski demikian masalah belum usai, karena ada kemungkinan kenaikan bunga acuan The FED hingga 3,4% di tahun 2022 ini," sebutnya, Kamis (16/6/2022).

Baca Juga: The Fed Naikkan Suku Bunga 0,75%

Gunawan menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan yang sebesar 1,75% saat ini masih setengah jalan. Masih ada kemungkinan kenaikan lajutan.

Torehan penguatan kinerja indeks bursa saham di banyak Negara termasuk Indonesia saat ini bukanlah konfirmasi kuat bahwa badai benar-benar sudah pergi.

"Kenaikan bunga acuan secara agresif oleh The FED ini jelas memberikan sinyal kuat kemungkinan terjadinya resesi ekonomi global dalam waktu dekat. Bahkan lebih dekat dari ekspektasi sebelumnya," sebut Gunawan.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Terlebih saat ini sudah ada sekitar 50 negara yang sudah menaikkan bunga acuannya. Indonesia belum melakukan hal yang sama, namun bukan berarti Indonesia akan bisa menghindar dari ancaman resesi tersebut.

"Meskipun kita dinilai lebih siap jika berhadapan dengan resesi tersebut. Tetapi ancaman tingginya inflasi, serta peluang pertumbuhan ekonomi direvisi, berpeluang memicu terjadinya stagflasi di tanah air. Artinya kita tetap terimbas dari ancaman resesi global, dan kita masih terus dihantui dengan memburuknya kondisi ekonomi eksternal," jelasnya.

Sementara itu, Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat tajam pada sesi perdagangan pertama. Seiring dengan penguatan bursa global.

Namun sayangnya IHSG justru mengalami tekanan jual di sesi kedua. Meskipun masih mampu ditutup di zona positif, IHSG terpaksa harus mengurangi keuntungannya dan hanya ditututup naik 0.62% di level 7.050,33.

"Padahal di sesi pertama IHSG sempat menguat 1.62%," tukasnya.

Untuk mata uang Rupiah, sebut Gunawan, diperdagangkan melemah di kisaran level 14.780 per US Dolar pada perdagangan hari ini. Nasib Rupiah tidak sebaik IHSG. Meski demikian pelemahan Rupiah pada hari ini bukan menjadi ancaman bagi BI.

"Dengan kenaikan bunga acuan sebesar 75 basis poin yang dilakukan oleh The FED, dan jika melihat pelemahan Rupiah di 14.700 – 14.800, saya menilai pelemahan tersebut masih terbatas, belum memunculkan ancaman serius," pungkasnya.

Di sisi lain, sambung Gunawan, kinerja harga emas pasca keptutusan The FED bergerak mendatar dengan kecenderungan naik. Harga emas sejauh ini berada dikisaran USD1.830 per ons troy.

"Harganya masih dikisaran Rp865 ribu per gram. Belum beranjak jauh dalam sepekan terakhir," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini