Share

Dihujani Sanksi, Rusia Justru Santai Beri Diskon Minyak ke China dan India

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 22 Juni 2022 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 22 320 2615818 dihujani-sanksi-rusia-justru-santai-beri-diskon-minyak-ke-china-dan-india-8IQcWK1OPL.jpg Rusia. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Rusia telah menemukan konsumen baru dalam industri minyak dan gas, yang membantunya menghindari sanksi ekonomi berat yang dijatuhkan oleh Barat.

Dikutip dari BBC, Rusia menggantikan Arab Saudi sebagai pemasok Utama minyak ke China.

Bahkan, Kremlin dilaporkan menawarkan minyak dan gasnya dengan potongan harga kepada Beijing,

 BACA JUGA:Jurnalis Rusia Lelang Medali Nobel Perdamaian untuk Bantu Anak-Anak di Ukraina

Sehingga ini memungkinkan Rusia menemukan pasar baru untuk pasokan minyak yang tak dapat dijualnya menyusul sanksi ekonomi akibat serangan negara itu ke Ukraina.

Kemudian, Rusia juga memasok lebih banyak ke India.

Diketahui, sebelum invasi tersebut porsi ekspor minyak Rusia ke India hanya 1%, pada Mei ekspor itu meningkat jadi 18%.

Di mana ini terlepas dari fakta bahwa Rusia mengalami penurunan pendapatan dari ekspor minyak dan gas, pendapatan dari sektor energi masih cukup untuk membiayai, antara lain, aksi militer di Ukraina.

Dari ata lembaga bea cukai China, impor minyak mentah Rusia - termasuk minyak yang dipasok lewat pipa Siberia Timur - Samudra Pasifik - mencapai 8,24 juta ton pada bulan lalu.

Jumlah itu mengalami peningkatan sebanyak 55% ketimbang tahun lalu, dan mencapai rekornya di bulan Mei.

Adapun [erusahaan milik negara China seperti Sinopec dan Zhenhua Oil, telah menambah pembelian minyak mentah mereka dari Rusia dalam beberapa bulan terakhir.

Perusahaan-perusahaan itu menerima diskon dalam jumlah besar dari Rusia sebab pembeli di Eropa dan AS mulai menghindari minyak dan gas Rusia setelah invasi Ukraina.

Ini juga yang membuat Arab Saudi berada di posisi kedua di antara negara-negara pemasok minyak ke China, dengan 7,82 juta ton.

Tapi Rusia bukan satu-satunya negara dengan sanksi yang minyaknya dibeli oleh China.

Tercatat kalau Beijing membeli 260.000 ton minyak mentah dari Iran bulan silam. Ini adalah pembelian ketiga sejak Desember tahun lalu.

Jika menurut hukum, Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), penjualan hidrokarbon Rusia terus mengalami tren penurunan sejak awal pengenaan sanksi.

Namun, laporan itu memperingatkan bahwa Moskow telah menemukan celah hukum untuk terus melakukan ekspor.

Salah satunya adalah dengan mengekspor minyak mentah ke negara ketiga, seperti India - yang kemudian melakukan penyulingan minyak itu - lalu mengirimkan produk olahan itu ke negara-negara Eropa.

"Laporan itu mencatat bahwa banyak minyak Rusia diekspor ke India untuk diolah, dan banyak dari minyak sulingan itu masuk ke pasar Eropa," kata wartawan bisnis BBC Theo Legget.

"Dan saat Moskow mencari pasar baru dan [distribusi] minyak Rusia beralih dari jaringan pipa ke kapal, kebanyakan dari mereka dimiliki oleh perusahaan-perusahaan Eropa. Supaya tekanan pada Rusia efektif, masalah seperti ini harus ditangani," tambahnya.

Kini, Uni Eropa pun disebut tengah dilema.

Karena Uni Eropa tetap menjadi pelanggan Utama minyak dan gas Rusia.

Diperkirakan USD59 miliar atau setara Rp873,8 triliun dari USD97 miliar atau setara Rp1,4 triliun total pendapatan ekspor energi Rusia selama 100 hari pertama perang di Ukraina berasal dari Uni Eropa.

Hal yang tidak mungkin mencapai kesepakatan untuk sepenuhnya melarang pembelian hidrokarbon dari Rusia.

Kini, Uni Eropa berencana untuk memberlakukan larangan impor minyak Rusia yang tiba melalui laut sebelum akhir tahun ini, yang pada akhirnya memangkas impor sebanyak 60%.

Pada Maret silam, Eropa mengurangi impor gas Rusia sebanyak setidaknya dua pertiga dalam periode satu tahun.

Lalu, Amerika Serikat memutuskan larangan total pembelian minyak, gas dan batu bara dari Rusia. Sementara Inggris diperkirakan akan melakukan hal serupa sebelum akhir 2022.

"Dengan melonjaknya harga bahan bakar," kata wartawan bisnis global BBC Dharsini David.

"Bukan hanya pengemudi yang akan mengantre saat melihat diskon," lanjutnya.

Dia menyebut India dan China telah dapat mengambil keuntungan dari situasi saat ini di Rusia.

Dia pun mengingatkan sanksi Eropa dan transisi ke pemasok lain, ekspor Rusia ini hanya akan berlangsung untuk sementara waktu.

"Pendapatan minyak Rusia sudah mulai turun, dan ini akan terus terjadi Ketika negara-negara lain mencari sumber energi alternatif," imbaunya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini