Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Laut Mahakam Menolak Menyerah

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Rabu, 05 Agustus 2026 |08:58 WIB
Ketika Laut Mahakam Menolak Menyerah
Ketika Laut Mahakam Menolak Menyerah (Foto: Dokumentasi PHI)
A
A
A

JAKARTA - Selama bertahun-tahun Laut Mahakam terus menghasilkan energi. Namun seperti manusia yang menua, sumur-sumur migasnya perlahan kehilangan tenaga. Di tengah penurunan alamiah itu, Proyek Lapangan Manpatu lahir bukan untuk menggantikan Mahakam, melainkan memperpanjang napasnya.

Saat matahari baru saja memecah ufuk timur, sebuah kapal crane raksasa mulai mengambil posisi di perairan South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan, Kalimantan Timur. Laut tampak tenang, tetapi tak seorang pun di atas geladak menganggap pekerjaan hari itu sebagai rutinitas.

Di hadapan mereka berdiri jacket baja yang telah lebih dahulu dipasang di dasar laut. Beberapa saat kemudian, perlahan namun pasti, sebuah topside seberat hampir 1.000 ton mulai terangkat. 

Puluhan pasang mata mengikuti setiap sentimeter pergerakannya. Tidak ada ruang bagi kesalahan. Perbedaan beberapa milimeter saja dapat mengubah operasi bernilai ratusan juta dolar menjadi bencana.

Namun, setelah berjam-jam yang menegangkan, struktur baja itu akhirnya bertumpu sempurna di atas fondasinya.

Tepuk tangan pecah. Bukan karena sebuah konstruksi berhasil dipasang. Melainkan karena Indonesia kembali memenangkan satu pertarungan penting dalam menjaga masa depan energinya.

Bagi sebagian orang, Platform Offshore Manpatu hanyalah bangunan baja yang berdiri di tengah laut. Namun bagi industri hulu migas, platform itu merupakan jawaban atas satu tantangan yang selama bertahun-tahun menghantui hampir seluruh negara penghasil minyak dan gas: bagaimana mempertahankan produksi ketika lapangan-lapangan migas semakin menua.

Cadangan migas terus menurun secara alamiah, sementara kebutuhan energi nasional terus meningkat. Di tengah tantangan itu, mempertahankan produksi jauh lebih sulit dibanding sekadar mengebor sumur baru. 

Karena itulah Manpatu hadir bukan hanya sebagai proyek migas, melainkan simbol keberanian Indonesia menjaga ketahanan energi di tengah transisi energi global.

Pada 27 Mei 2026, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menyelesaikan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu sebagai bagian dari pengembangan lapangan migas di Wilayah Kerja Mahakam.

Keberhasilan itu bukanlah titik akhir, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang melibatkan ribuan jam rekayasa, perencanaan, dan koordinasi lintas disiplin.

Seluruh tahapan dimulai sejak April 2026 melalui proses sail away jacket, pengiriman topside dari fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, hingga operasi heavy lifting di laut lepas, salah satu pekerjaan paling kompleks dalam industri migas offshore.

Proyek Manpatu

Di atas kertas, pekerjaan itu mungkin hanya terdiri atas daftar prosedur teknis. Namun di lapangan, setiap keputusan dipengaruhi oleh kecepatan angin, tinggi gelombang, arus laut, akurasi alat angkat, hingga koordinasi puluhan personel yang bekerja dalam satu irama.

Di ruang kendali, komunikasi berlangsung singkat, nyaris tanpa jeda. Ketika topside akhirnya terkunci sempurna di atas jacket, sebagian kru hanya saling mengangguk sebelum kembali memeriksa instrumen. Bagi mereka, keberhasilan baru benar-benar dirayakan ketika seluruh personel pulang dengan selamat.

Semua harus berlangsung presisi. Semua harus selesai tanpa mengorbankan satu nyawa pun.

Di industri yang memiliki tingkat risiko tinggi, keberhasilan sejati bukan sekadar proyek selesai tepat waktu atau sesuai anggaran. Keberhasilan sejati adalah ketika seluruh pekerja kembali ke rumah dengan selamat.

Budaya itulah yang menjadi fondasi setiap pekerjaan PHM melalui penerapan Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) secara konsisten di seluruh tahapan proyek.

General Manager PHM Setyo Sapto Edi menegaskan bahwa pengembangan Manpatu merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menemukan sumber daya baru, menambah cadangan, dan menjaga keberlanjutan produksi migas nasional. Pernyataan tersebut mencerminkan tantangan besar yang dihadapi industri energi Indonesia hari ini.

“Di PHM, kami berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber daya baru, menambah cadangan, dan menjaga keberlanjutan produksi minyak bumi dan gas alam (migas) dari wilayah Kalimantan untuk puluhan tahun mendatang,” ujarnya belum lama ini.

Proyek Manpatu

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement