Share

Utang Meningkat, Rhenald Kasali Ingatkan Pelajaran dari Tragedi Subprime Mortgage Crisis Amerika

Bella Hariyani, Jurnalis · Kamis 23 Juni 2022 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 320 2616699 utang-meningkat-rhenald-kasali-ingatkan-pelajaran-dari-tragedi-subprime-mortgage-crisis-amerika-nujqRjTDeM.jpg Utang Indonesia Capai Rp7.014 Triliun. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Utang Indonesia saat ini mencapai Rp7.014 triliun. Besaranya utang ini mesti dikelola dengan kehati-hatian karena khawatir akan seperti Amerika Serikat (AS) pada 2008.

Akademisi dan Praktisi Bisnis Rhenald Kasali mengatakan, yang dialami Amerika Serikat ketika krisis perekonomian 2008 disebut dengan subprime mortgage crisis. Tentu apa yang terjadi di AS waktu itu perlu diwaspadai karena jumlah utang Indonesia terus meningkat.

Pada 2014, menurut data dari pemerintah utang pemerintah Republik Indonesia baru mencapai Rp2.608,7 triliun. Maka kondisi pada 2022 khusus Februari telah mencapai Rp7.014,58 triliun.

Baca Juga: Utang RI Rp7.040 Triliun, Sri Mulyani: Beberapa Negara Rasionya Dramatis

"Jadi memang jumlah utang kita meningkat hanya saja patut kita syukuri karena PDB kita juga meningkat, sehingga secara proporsional memang kita mengalami suatu kemajuan dari perekonomian sehingga secara proporsional sebetulnya tidak begitu menyeramkan akan jadi masalah kalau utangnya meningkat tetapi pendapatan nasional tidak mengalami peningkatan," ujarnya, dalam akun YouTubenya, Kamis (23/6/2022).

Rhenald pun ingin Indonesia belajar dari kejadian krisis di Sri Lanka Pertama, semua bangsa di dunia selama masa pandemi telah meningkatkan jumlah utang dan tentu jumlahnya harus dikelola dengan penuh kehati-hatian.

"Kalau tidak penuh kehati-hatian, akibatnya adalah ketika pendapatannya turun maka negara barangkali adalah proporsinya jumlah utang dengan pendapatan nasionalnya akan mengalami peningkatan dan berakibat tingkat kepercayaan internasional pada bangsa itu mengalami suatu kemunduran," turunya.

Baca Juga: 11 Cara Menagih Utang agar Segera Dibayar, Ambil Gaji hingga Sita Barang

Tercatat banyak sekali negara-negara yang mengalami peningkatan utang seperti Amerika Serikat, China, India, Rusia semua mengalami peningkatan. Dalam situasi seperti itu tentu saja utang Indonesia harus dimulai dengan penuh kehati-hatian.

"Negara tentu saja harus menjaga sedemikian rupa ada keseimbangan mana kondisi yang harus diberikan subsidi. Ketika terjadi kelangkaan minyak goreng negara telah dipaksa untuk memberikan subsidi minyak goreng kepada masyarakat yang bentuknya adalah uang," ujarnya.

Kemudian, masyarakat tidak mempunyai uang yang cukup untuk membiayai kehidupannya karena terganggu pandemi tidak bisa bekerja maka negara harus hadir memberikan sesuatu. Tetapi negara juga tidak boleh berhenti dalam melakukan pembangunan karena pembangunan dibutuhkan untuk menyambut kondisi di masa depan ketika semuanya telah berlalu,

"Dengan melihat apa yang terjadi di Sri Lanka tentu saja kita harus belajar dengan penuh kehati-hatian, Indonesia atau tidak mengalami kondisi yang sama seperti Sri Lanka," tuturnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani telah mengatakan Indonesia berbeda jauh dengan Sri Lanka. Tetapi kondisi suatu waktu bisa berubah sangat buruk kalau tidak bersatu dan kalau membiarkan semua ini berlalu begitu saja.

Dirinya berharap jangan sampai sektor kesehatan menjadi tidak penting karena masih menjadi negara yang selalu bergantung pada negara-negara lain kita memerlukan pabrik vaksin dalam jumlah besar. Tidak hanya satu jenis vaksin tidak hanya vaksin untuk manusia tetapi juga vaksin untuk ternak untuk pets dan lain sebagainya.

"Kita juga memerlukan vitamin kita memerlukan sektor kesehatan mengalami transformasi besar-besaran karena sektor kesehatan inilah pencipta lapangan pekerjaan yang penting di masa depan tentu saja di samping kebutuhan pangan karena jumlah penduduk terus meningkat bangsa-bangsa tengah mengalami persoalan terutama dalam supply change sedikit saja terjadi hentakan supply change karena barang tidak bisa keluar dari satu pelabuhan di salah satu negara penghasil komoditas tertentu maka dampaknya akan dirasakan di negara lain. Indonesia perlu membangun sistem informasi yang efisien disamping sistem pangan yang juga efisien untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini