Share

Khawatir Resesi, Harga Minyak di Minggu Ini Anjlok 4,1%

Antara, Jurnalis · Sabtu 09 Juli 2022 07:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 09 320 2626457 khawatir-resesi-harga-minyak-di-minggu-ini-anjlok-4-1-1dG9R2Ws2a.jpg Harga Minyak Mentah Turun. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

NEW YORK- Harga minyak naik sekitar 2% pada akhir perdagangan yang fluktuatif di Jumat. Meski demikian, harga minyak mencatat penurunan mingguan karena investor khawatir tentang potensi penurunan permintaan akibat resesi ekonomi.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September terangkat USD2,37 atau 2,3% menjadi USD107,02 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Agustus bertambah USd2,06 atau 2,0% menjadi USD104,79 per barel.

Kedua kontrak acuan diperdagangkan di wilayah negatif dan kemudian rebound dari posisi terendah sesi.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2% di Tengah Penurunan Produksi Libya

Brent membukukan penurunan mingguan sekitar 4,1% dan WTI mencatat kerugian 3,4% mengikuti penurunan bulanan pertama sejak November. Harga jatuh pada Selasa (5/7/2022), ketika penurunan USD10,73. Brent catat penurunan harian terbesar ketiga kontrak sejak mulai diperdagangkan pada tahun 1988.

Sementara itu, bank-bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga untuk menjinakkan laju inflasi. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa kenaikan biaya pinjaman dapat menghambat pertumbuhan, sementara pengujian massal Covid-19 di Shanghai minggu ini menyebabkan kekhawatiran tentang potensi penguncian yang juga dapat menekan permintaan minyak.

Data penggajian non-pertanian (NFP) AS menunjukkan ekonomi menambahkan lebih banyak pekerjaan dari yang diperkirakan pada Juni, tanda kekuatan pasar tenaga kerja yang terus-menerus yang memberi amunisi Federal Reserve untuk memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi bulan ini.

Baca Juga: Harga Minyak Brent dan WTI Naik Sikapi Hasil KTT G7

"Pasar minyak melihat laporan pekerjaan sebagai pedang bermata dua. Angka pekerjaan positif dari perspektif permintaan. Di sisi bearish, pasar khawatir bahwa jika pasar tenaga kerja kuat, The Fed bisa lebih agresif dengan menaikkan suku bunga," ujar Analis Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip dari Antara, Sabtu (9/7/2022).

Perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini menambahkan dua rig minyak, sehingga total menjadi 597 rig, tertinggi sejak Maret 2020, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.

Harga minyak melonjak selama paruh pertama 2022. Brent mendekati rekor tertinggi 147 dolar AS setelah Rusia meluncurkan invasi ke Ukraina pada Februari, menambah kekhawatiran pasokan.

"Kekhawatiran ekonomi mungkin telah mengguncang harga minyak minggu ini, tetapi pasar masih memberikan sinyal bullish. Ini karena ketatnya pasokan lebih cenderung meningkat dari titik ini daripada mereda," kata Stephen Brennock dari pialang minyak PVM.

Larangan Barat terhadap ekspor minyak Rusia telah mendukung harga dan memicu pengalihan arus sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen sekutu berjuang untuk memenuhi janji peningkatan produksi.

Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan Barat bahwa sanksi lanjutan terhadap Moskow berisiko memicu kenaikan harga energi "bencana" bagi konsumen di seluruh dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini