Share

Harga CPO Naik Tipis, Indonesia Gercep Lakukan Ekspor

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Senin 18 Juli 2022 13:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 18 320 2631539 harga-cpo-naik-tipis-indonesia-gercep-lakukan-ekspor-2OmnrLKW9D.jpg CPO. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Harga minyak sawit mentah/crude palm oil (CPO) mengalami kenaikan tipis pada sesi siang hari ini, Senin (18/7/2022).

Data Bursa Malaysia Derivatives Berhad (BMD), hingga pukul 13.09 WIB menunjukkan harga CPO kontrak September 2022 meningkat 5,82% menjadi MYR3.797 per ton, sedangkan kontrak teraktif Oktober 2022 tumbuh 5,73% di MYR3.837 per ton.

Pasar CPO tampak sumringah hari ini setelah harganya sempat dihajar koreksi dalam beberapa waktu terakhir.

 BACA JUGA:Bebaskan Pungutan Sawit, Sri Mulyani Mau Percepat Ekspor CPO

Produsen terbesar sawit, Indonesia, baru saja mengumumkan penghapusan pungutan ekspor produk minyak sawit yang berlaku hingga 31 Agustus 2022.

Pemerintah Indonesia mengharapkan langkah ini dapat memacu pengiriman ekspor sekaligus mengurangi stok yang menumpuk di tingkat produsen.

Kendati keran ekspor terbuka lebar, aturan setoran untuk pasar domestik / DMO tetap diwajibkan.

Hal ini menjadi perhatian bagi para pengusaha, seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang menyarankan agar aturan DMO dicabut.

"Untuk saat ini hapus DMO sampai stok turun menjadi 3 juta hingga 4 juta ton. Masalah kami sekarang adalah persediaan terlalu tinggi," kata GAPKI kepada Reuters, dikutip Senin (18/7/2022)

Pembebasan pungutan ekspor ini tidak berlaku permanen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pungutan ekspor minyak sawit progresif akan diterapkan mulai 1 September, dengan tarif yang ditetapkan antara USD55 dan USD240 per ton untuk minyak sawit mentah.

Dari dataran negeri Jiran Malaysia, data surveyor kargo menunjukkan ada penurunan ekspor antara 2,7% dan 21% dalam 10 hari pertama pada bulan Juli 2022, dibandingkan dengan ekspor dari bulan Juni.

Analisa CGS-CIMB memperkirakan stok minyak sawit Malaysia akan naik 21,4% setiap bulan menjadi 2 juta ton pada Juli, didukung oleh meningkatnya produksi dan ekspor yang lebih rendah.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini