Menurut dia, hal ini disebabkan menurunnya kasus COVID-19 varian Delta, PMI manufaktur yang meningkat menjadi 51,3 pada Juli 2022, dan ekspor China ke Indonesia yang dilaporkan menguat.
"Sementara itu, impor tetap solid, seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi domestik," ujar Faisal.
Faisal juga memperkirakan sepanjang semester II-2022 harga komoditas global akan kembali normal yang berdampak pada menurunnya kinerja ekspor Indonesia. Di sisi lain, impor akan tetap solid seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan terus naik seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Dengan proyeksi ini, ia memperkirakan neraca transaksi berjalan tahun 2022 masih akan mencatatkan surplus, tetapi dengan nilai yang kecil yakni sebesar 0,03 persen dari PDB, lebih kecil dari tahun 2021 yang sebesar 0,28 persen.
Seperti diketahui, pada Senin (15/8) nanti, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data neraca perdagangan Indonesia Juli 2022.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.