Share

Duh! Mayoritas Petani RI Usianya di Bawah 40 Tahun, Ini Alasannya

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Jum'at 19 Agustus 2022 03:48 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 19 320 2650359 duh-mayoritas-petani-ri-usianya-di-bawah-40-tahun-ini-alasannya-YmRSfptgvm.jpg Ilustrasi petani. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Petani di Indonesia disebut mayoritas sudah tua dan jarang yang usianya di bawah 40 tahun.

Bahkan, regenerasi petani di Indonesia dinilai berjalan lambat.

“Regenerasi petani merupakan salah satu kunci untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas pertanian. Sayangnya usia mayoritas petani di Indonesia sudah tua, hanya 8% yang berusia di bawah 40 tahun,” Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi Kamis (18/8/2022).

Dia menyebut kalau salah satu alasan di balik mengapa pertanian tidak menarik sebagai sumber pencaharian, terutama bagi kaum muda karena pendapatan petani yang tidak mampu menjamin pemenuhan kebutuhan hidup.

 BACA JUGA:Heroik! Petani Naik Tiang Perbaiki Bendera yang Tersangkut saat Upacara HUT Ke-77 RI

Adapun jika dilihat dari data BPS, upah nominal buruh tani nasional pada Juni 2022 mencapai Rp58.337 per hari, atau meningkat 0,18% dari upah pada Mei 2022 dan 2,71% kalau dibandingkan dengan upah pada Juni 2021.

"Namun, kenaikan ini berbanding terbalik dengan upah riil, yaitu perbandingan antara upah nominal buruh tani dengan indeks harga konsumsi rumah tangga pedesaan, yang menurun sebesar 1,03 persen," ucap Azizah.

Menurutnya, meskipun ada peningkatan kesejahteraan, petani masih menghadapi berbagai tantangan, seperti tingginya ongkos produksi, kesulitan mendapatkan pupuk, subsidi maupun non subsidi, hingga risiko gagal panen.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Apalagi harga pupuk nonsubsidi pun melonjak sejak pecahnya konflik Rusia dan Ukraina.

Dia pun menambahkan akses kepada teknologi pertanian juga belum meluas dan bantuan alat mesin pertanian juga masih terbatas dan seringkali belum tepat guna.

Di mana lahan pertanian pun semakin menciut akibat alih fungsi menjadi kawasan perumahan atau industri.

"Berbagai faktor ini dan gambaran bahwa petani identik dengan berkotor-kotor dan pendidikan yang rendah, akhirnya mendorong orang muda untuk mencari kerja di daerah perkotaan dan di luar sektor pertanian," jelasnya.

Sehingga, dia menyarankan pemerintah perlu adopsi teknologi pertanian yang masif, diyakini ini akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi dan juga mendongkrak citra pertanian sebagai sektor yang juga mampu mengikuti perkembangan zaman.

Namun ini memerlukan investasi berkelanjutan untuk membuatnya terjangkau bagi petani dan mendorong adopsinya yang masif.

"Presidensi Indonesia di G20 juga harus dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda regenerasi petani. G20 dapat dijadikan sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan mengenai teknologi dan praktik pertanian berkelanjutan yang selanjutnya dapat diadopsi oleh orang muda,” pungkasnya.

Baca Selengkapnya: Gawat, Hanya 8% Petani di Indonesia yang Usianya di Bawah 40 Tahun

 

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini