Share

Sri Mulyani Sebut Mesin Lebih Mendominasi di 2025, Tanda 'Kiamat' Pekerja?

Michelle Natalia, Sindonews · Kamis 25 Agustus 2022 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 25 622 2654418 sri-mulyani-sebut-mesin-lebih-mendominasi-di-2025-tanda-kiamat-pekerja-0Z2jxpWcRB.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com/Kemenkeu)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai kehadiran teknologi digital di dalam society 5.0 memudahkan kehidupan masyarakat khususnya generasi muda. Untuk itu, diperlukan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki, terutama di bidang teknologi digital untuk memaksimalkan kemudahan tersebut.

“Tidak semua masyarakat bisa mendapatkan manfaat dan akses dari perubahan society 5.0, karena kita harus memiliki infrastruktur. Baik itu infrastruktur hard dari mulai jalan raya, digital infrastruktur, satelit, dan konektivitas, hingga infrastruktur yang sifatnya soft atau lunak, yaitu bagaimana mempersiapkan masyarakat atau manusianya dengan tentu sebuah evolusi pendidikan dan keterampilan,” ucap Sri, saat mengisi kuliah umum di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), secara daring di hadapan civitas akademika UNJ, Kamis (25/8/2022).

Baca Juga: Gelombang 42 Ditutup, Peserta yang Lolos Kartu Prakerja dapat Uang Berapa?

Di 2025, peranan mesin di bidang pekerjaan memiliki kemungkinan akan lebih mendominasi dibandingkan dengan peran manusia.

“Kalau kita lihat rate of automation terutama sesudah terjadinya pandemi, terlihat sekali pada tahun 2018 peranan mesin itu 29%, 71% adalah human. Tahun 2022 sesudah pandemi peranan mesin menjadi lebih mendominasi 42% human 58%. Tahun 2025 kemungkinan peranan mesin akan jauh lebih besar. Ini menjadi suatu kesempatan namun juga tantangan,” terang Sri.

Baca Juga: Tanpa Calo, Berikut Keuntungan Daftar hingga Mengerjakan Tes Pelatihan Kartu Prakerja Sendiri

Sri juga memaparkan upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Seperti halnya pada sektor pendidikan, pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar 6 tahun dan sekarang menuju wajib belajar 12 tahun.

Selain itu, pemerintah juga membentuk dana abadi pendidikan yang dikelola oleh LPDP, dana abadi perguruan tinggi, dana abadi kebudayaan, penelitian, hingga dana abadi pesantren.

“Sekarang LPDP sudah mencapai Rp120 triliun. Hari ini kita sudah mengirim dan memberikan beasiswa kepada hampir 30.000 mahasiswa untuk mengambil pelajaran di sekolah terbaik di dunia, dan sebanyak 1.668 proyek penelitian didanai,” ungkap Sri.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Selain pendidikan, sektor kesehatan juga menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.

“Manusia harus sehat untuk dia bisa terus meningkatkan kemampuan dan mencapai seluruh potensial yang dimiliki. Ini belum sempurna, namun Indonesia punya dan terus membangun kerangka kebijakan untuk reformasi di bidang kesehatan,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Sri juga berpesan kepada para mahasiswa agar mampu menghadapi perkembangan transformasi teknologi digital kedepan, namun juga tetap memiliki jati diri dan karakter sebagai bangsa Indonesia.

“Sasaran untuk strategi transformasi digital adalah masyarakatnya harus menjadi mampu dan familiar dengan teknologi digital, sehingga mereka bisa melihat sebagai suatu kesempatan bukan sebagai ancaman. Saya berharap UNJ akan menghasilkan manusia-manusia yang memiliki peri kemanusiaan yang adil dan beradab, empati dan memahami kebhinekaan bukan sebagai ancaman, tapi sebagai sebuah Anugerah,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini