Share

Harga Pangan Turun, Mendag: Kecuali Telur Ayam dan Tepung Terigu

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Selasa 30 Agustus 2022 17:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 30 320 2657622 harga-pangan-turun-mendag-kecuali-telur-ayam-dan-tepung-terigu-vnCUaDtb40.JPG Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyampaikan progres pencapaian kinerja Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait dengan stabilisasi harga dan pasokan kebutuhan pokok per 26 Agustus 2022 mengalami tren penurunan.

Namun, dia tidak menampik bahwa beberapa barang pokok seperti telur ayam ras dan tepung terigu mengalami kenaikan.

"Dapat kami laporkan bahwa sebagian besar harga kebutuhan pokok per 26 Agustus 2022 telah mengalami tren penurunan yang signifikan dibandingkan bulan lalu atau minggu lalu. Kecuali telur ayam, dan tepung terigu sedikit naik," ujar Mendag Zulhas saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (30/8/2022).

 BACA JUGA:Mendag Zulkifli Klaim Harga Bapok di Indonesia Makin Murah

Dia menerangkan, harga telur ayam mengalami kenaikan 6% dibandingkan bulan lalu.

Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan, harga telur ayam ras di Jawa Timur dan Jawa Tengah berkisar Rp28.000 - Rp30.000/kg.

Sementara di DKI Jakarta masih menyentuh Rp33.000/kg. Kemudian di Sumatera hingga Lampung rata-rata di bawah Rp30.000/kg.

"Di Kalimantan Rp30.000-an, memang yang masih tinggi itu di Papua dan Maluku. Tapi trennya sudah turun," paparnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Lanjut dia menjelaskan, kenaikan harga telur ayam di pasaran itu imbas dari afkir dini yang terjadi pada 2021 silam tepat saat masa pandemi Covid-19.

Saat itu harga telur ayam di tingkat pengecer jatuh sampai Rp14.000/kg. Dengan harga segitu, para peternak merugi karena ongkos telur mereka berkisar Rp24.000/kg.

Hingga akhirnya para peternak melakukan afkir dini yakni memotong induk ayam dijadikan ayam potong.

Kemudian, penyebab kenaikan lainnya yakni karena adanya bantuan sosial (bansos) pemerintah kepada masyarakat yang salah satu isi sembakonya telur ayam.

Ditambah, bansos tersebut dirapel tiga bulan dalam waktu lima hari. Sehingga permintaan melebihi produksi.

"Yang kedua, memang Mensos (Menteri Sosial) tidak memberi (bansos) telur tapi memberikan bantuan (uang tunai) kepada daerah, dan daerah menjadikan itu bantuan dalam bentuk pangan dan itu rupanya kesepakatan antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Sosial dulu. Karena telur dulu nggak laku. Nah kebijakannya diteruskan walaupun zaman sudah berbeda. Jadi program keluarga harapan (PKH) bantuannya dibelikan pangan antara lain telur," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini