Share

Wall Street Terpuruk, Indeks Dow Jones Kehilangan 486,27 Poin

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Sabtu 24 September 2022 07:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 24 278 2673990 wall-street-terpuruk-indeks-dow-jones-kehilangan-486-27-poin-zqKjfogokA.jpg Wall Street ditutup melemah (Foto: Reuters)

JAKARTA - Wall Street terpuruk dengan penurunan tajam pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Bursa saham AS terpuruk karena aksi jual besar-besaran berlanjut di tengah kekhawatiran resesi setelah kebijakan suku bunga hawkish Federal Reserve AS untuk mengekang inflasi yang terus memanas.

Dilansir dari Antara, Sabtu (24/9/2022), indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 486,27 poin atau 1,62%, menjadi menetap di 29.590,41 poin. Indeks S&P 500 tergelincir 64,76 poin atau 1,72%, menjadi berakhir di 3.693,23 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 198,88 poin atau 1,80%, menjadi ditutup di 10.867,93 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor energi dan konsumer non-primer masing-masing terpuruk 6,75% dan 2,29%, memimpin kerugian.

Ketiga indeks mengalami penurunan mingguan yang berat. Indeks Nasdaq anjlok 5,03% - minggu kedua berturut-turut turun lebih dari 5,0% - dengan S&P 500 jatuh 4,77% dan Dow 4,0% lebih rendah.

Pasar bereaksi dalam mode risk-off (penghindaran risiko) karena meningkatnya kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan agresif Federal Reserve akan menyebabkan resesi.

The Fed pada Rabu (21/9) menyampaikan kenaikan suku bunga 75 basis poin ketiga berturut-turut tahun ini, membawa suku bunga dana federal ke kisaran baru 3,0% hingga 3,25%, dalam upaya untuk mengendalikan inflasi.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Besarnya kenaikan suku bunga sudah diperkirakan secara luas, tetapi laju pengetatan di masa depan yang tersirat oleh proyeksi ekonomi terbaru Fed lebih agresif daripada yang diantisipasi.

Komentar dari Ketua Fed Jerome Powell juga tetap hawkish, menekankan bahwa bank sentral fokus untuk mencapai stabilitas harga. The Fed memperkirakan bahwa ini akan membutuhkan periode berkelanjutan dari kebijakan moneter ketat, pertumbuhan ekonomi lemah dan pengangguran yang lebih tinggi.

"Pesan The Fed keras dan jelas: Menaklukkan inflasi terbukti jauh lebih sulit dari yang diharapkan, dan mengejar tujuan itu kemungkinan akan datang dengan beberapa kerusakan tambahan," analis di J.P. Morgan mengatakan Jumat (23/9) dalam sebuah catatan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini