Share

Efek The Fed, Aksi Jual Bursa Saham AS Berlanjut hingga Pekan Depan

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Sabtu 24 September 2022 19:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 24 278 2674287 efek-the-fed-aksi-jual-bursa-saham-as-berlanjut-hingga-pekan-depan-ROEurXflek.jpg Wall Street melemah (Foto: Reuters)

JAKARTA - Aksi jual di Wall Street atau bursa saham AS diprediksi berlanjut hingga pekan depan. Bursa saham AS mengalami aksi jual yang cukup masif dalam pekan terakhir ini yang mengguncang pasar saham dan obligasi.

Data penutupan minggu ini mencatat, Dow Jones Industrial Average turun 1,62%, menjadi 29.590,41, S&P 500 kehilangan 64,76 poin, atau 1,72% di 3.693,23, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 1,80%, ke 10.867,93.

Chief Investment Strategist CFRA Research, Sam Stovall mencermati sentimen suku bunga dan proyeksinya tahun depan dari bank sentral Amerika Serikat/Federal Reserve masih menjadi lokomotif penggerak profit-taking investor ke depan.

"Pasar saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan," kata Sam, dilansir Reuters, Sabtu (24/9/2022).

Sebelumnya, The Fed merespons lonjakan inflasi AS mengerek Fed funds rate sebesar 75 basis poin (bps). Angka itu tepat sesuai prakiraan pasar. Namun, Gubernur Jerome Powell dalam sambutannya menegaskan ada potensi kenaikan suku bunga lanjutan hingga 4,6% pada tahun depan.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Proyeksi ini dinilai akan menjadi beban pasar ekuitas dalam waktu dekat. Indeks Volatilitas Cboe, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan investor Wall Street, pada hari Jumat melesat di atas 30, titik tertinggi sejak akhir Juni. Namun, angka tersebut masih berada di bawah level rata-rata 37.

Analis BNY Mellon, Jake Molly memaparkan kunci utama yang harus diperhatikan investor dalam beberapa minggu mendatang adalah seberapa tajam perkiraan penurunan pendapatan perusahaan pada periode laporan keuangan kuartalan. Apabila kinerja keuangan perusahaan mampu positif maka diperkirakan dapat menyeimbangi ketakutan atas resesi.

"Sentimen resesi kemungkinan akan mendorong S&P 500 untuk diperdagangkan antara 3.000 dan 3.500 pada 2023," kata Jolly.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini