Share

6 Fakta Nilai Tukar Rupiah Anjlok

Noviana Zahra Firdausi, Okezone · Sabtu 01 Oktober 2022 03:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 320 2678472 6-fakta-nilai-tukar-rupiah-anjlok-9EEHJkrGmy.jpg Nilai Tukar Rupiah (Foto: Okezone)

JAKARTA – Masyarakat dibuat berdebar-debar oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melemah hingga level Rp15.200 per USD.

Pelemahan rupiah tersebut diduga akan berdampak pada kinerja PLN dan pertamina, ujar Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury.

"Terkait mengenai hedging, memang dua BUMN yang memiliki posisi yang kalau terjadi depresiasi itu menyebabkan adanya potensi effect losses itu adalah Pertamina dan juga PLN, sebagai dua BUMN yang memang memiliki posisi kewajiban dalam US dolar memang cukup tinggi," ungkap Pahala di Kementerian BUMN Jakarta

Berikut Okezone Sabtu, (1/10/2022) telah merangkum 5 fakta terkait nilai tukar rupiah yang anjlok, sebagai berikut:

1. Dolar AS Menguat Hingga Angka Rp15.200

Tercatat pada Rabu siang tadi dolar AS menguat hingga di angka Rp15.200. Meski begitu, Pahala mencatat kewajiban posisi di level 25% akan terus dijaga baik bagi Pertamina dan PLN.

"Kewajiban untuk 25% itu terus kita jaga baik untuk Pertamina dan untuk PLN," ujar Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury

2. Adanya Potensi Depresi

Kementerian BUMN berharap bila ada potensi terjadi depresi, maka kewajiban bisa ditingkatkan menjadi 25%.

"Ini kalau dalam kondisi memang ada potensi terjadi depresiasi kita harapkan untuk bisa ditingkatkan di atas 25%," lanjut Pahala.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

3. Mencari Mata Uang Baru

Senada, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo atau Tiko menilai meningkatkan dolar AS memungkinkan pemerintah akan mencari mata uang baru, di luar dolar. Alasan lain adalah karena Rupiah masih cukup kuat terhadap mata uang asing lain seperti Yen dan euro.

"Jadi pemikiran buat kita apakah memang kita juga mulai mencari sumber pendanaan dari currency lain," kata Tiko.

4. Faktor Internal Penyebab Nilai Mata Uang Menurun

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu faktor internal pemicu mata uang garuda ini melemah karena Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2023 sekaligus memperingatkan bahwa banyak negara Eropa, AS dan China dapat menghadapi resesi di 2023.

5. Disrupsi Pasokan Meningkat

Di tengah perlambatan ekonomi, disrupsi pasokan meningkat sehingga mendorong harga komoditas energi bertahan tinggi.

Tekanan inflasi global semakin tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta terjadinya fenomena heatwave di beberapa negara, sehingga mendorong bank sentral di banyak negara melanjutkan kebijakan moneter agresif.

6. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Angka 5,4%

Di mana angka ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di Amerika Serikat Inggris, Eropa, Australia, Jepang bahkan Singapura.

"Lalu inflasi juga masih di kisaran target bank Indonesia. Jadi overall sebenarnya fundamental ekonomi Indonesia sampai saat ini masih cukup bagus. Ini mungkin bisa membantu untuk menahan pelemahan rupiah yang saat ini mengarah ke Rp15 ribuan," jelas Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini