Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pertumbuhan Ekonomi ASEAN+3 Dipangkas Jadi 3,7%, Kenapa?

Antara , Jurnalis-Kamis, 06 Oktober 2022 |11:41 WIB
Pertumbuhan Ekonomi ASEAN+3 Dipangkas Jadi 3,7%, Kenapa?
Ilustrasi ekonomi RI. (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) melakukan revisi untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan jangka pendek untuk kawasan ASEAN+3 pada tahun 2022 dari 4,3% di bulan Juli menjadi 3,7% pada Oktober.

Dikutip Antara, Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor mengatakan kebijakan ketat nol Covid--19 yang dinamis dan pelemahan sektor real estat di Tiongkok, serta potensi resesi di Amerika Serikat (AS) dan kawasan Eropa membebani prospek kawasan.

"Perlambatan ekonomi simultan di AS dan kawasan Eropa, dalam hubungannya dengan pengetatan kondisi keuangan global, akan memiliki efek limpahan negatif bagi kawasan melalui jalur perdagangan dan keuangan," ujar Khor dalam konferensi pers Quarterly Update on ASEAN+3 Regional Economic Outlook 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (10/6/2022).

 BACA JUGA:Para Menteri Ekonomi Asean Bertemu Negara Mitra Free Trade Agreement, Bahas Apa?

Adapun diketahui, ASEAN+3 terdiri dari 10 negara ASEAN ditambah tiga negara Asia yaitu Tiongkok, Jepang, dan Korea.

Meski terdapat penurunan perkiraan pertumbuhan ASEAN+3, dia menyebutkan kawasan ASEAN kemungkinan akan tumbuh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, yakni dari 5,1% menjadi 5,3% pada tahun 2022.

Namun untuk tahun 2023, proyeksi tersebut menurun dari 5,2% menjadi 4,9%.

Kemudian, pada penurunan proyeksi signifikan lebih cenderung kemungkinan terjadi di negara plus-3, yaitu dari 4,1% menjadi 3,3% di 2022 serta dari 4,9 persen menjadi 4,5 persen di tahun 2023.

Kendati begitu, pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 akan meningkat di tahun 2023 menjadi 4,6% yang disebabkan peningkatan ekonomi Tiongkok, dengan proyeksi inflasi ASEAN+3 yang moderat menjadi sekitar 3,4%.

Khor menjelaskan perang berkepanjangan di Ukraina memperdalam krisis energi Eropa, mendorongnya mendekati resesi. Di AS, pengetatan moneter yang agresif untuk melawan inflasi yang terus-menerus tinggi meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya hard landing alias kesulitan mengakhiri periode kelebihan permintaan dan inflasi tanpa memicu resesi.

Di ASEAN+3, inflasi terjadi semakin cepat, dimana harga makanan dan bahan bakar tetap tinggi meskipun ada penurunan baru-baru ini dalam tolok ukur komoditas global utama. Pemotongan subsidi di beberapa ekonomi dan depresiasi mata uang juga telah mendorong harga lebih tinggi.

“Bank sentral di kawasan menaikkan suku bunga kebijakan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung mata uang mereka. Namun, laju pengetatan moneter umumnya lebih terukur dan bertahap daripada di AS dan Kawasan Eropa," pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement