Share

Bahlil Sebut Tak Ada Tanda-Tanda Kehidupan Cerah di 2023

Iqbal Dwi Purnama, Okezone · Kamis 06 Oktober 2022 14:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 06 320 2681872 bahlil-sebut-tak-ada-tanda-tanda-kehidupan-cerah-di-2023-ndHcnSter0.jpg Menteri Investasi Bahlil (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Invetasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa kondisi ekonomi global pada tahun depan 2023 sudah punya ramalan buruk. Hal itu otomatis bakal berdampak pada Pertumbuhan ekonomi negara maju, apalagi negara berkembang.

"Ekonomi global tahun 2023 kalau boleh izinkan saya untuk mengatakan gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang cerah dihadapan kita," kata Bahlil dalam Orasi Ilmiah di Universitas Cendrawasih melalui kanal YouTube BKPM, Kamis (6/10/2022).

Bahlil menjelaskan hal tersebut disebabkan oleh masalah yang cukup kompleks, mulai dari perang dagang, pandemi, hingga ketegangan Geopolitik. Itu semua menjadi dasar dari munculnya berbagai krisis di Indonesia.

"Pernah dagang belum selesai, datang covid 19, hampir semua negara mengalami covid 19, dampaknya pertumbuhan ekonomi global menurun, pengangguran dimana-mana," sambungnya.

Selanjutnya ada ketegangan geopolitik dari konflik Rusia dan Ukraina yang membuat lonjakan harga minyak, terganggunya rantai pasok yang membuat harga komoditas juga mengalami lonjakan.

Sehingga Indonesia nantinya juga bakal terkena dampak dari efek yang ditimbulkan pada kondisi ekonomi global yang diproyeksikan bahlil tahun depan bakal tidak ada cahaya alias gelap.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Harga minyak naik, asumsi harga minyak di APBN 2022, perbarel 63-70 dolar perbarel, begitu pernah, rata-rata harga minyak dunia dari Januari - Agustus mencapai USD104 dollar," kata Bahlil.

Sementara setiap harinya dikatakan Bahlil Indonesia mengimpor minyak sebanyak 800 ribu barel, karena dari dalam negeri hanya mampu memproduksi 700 ribu barel sedangkan kebutuhan hariannya mencapai 1.500 barel.

"Makanya saya katakan ekonomi global gelap, karena gelap tidak ada satu pakar ekonomi yang bisa memprediksi ini," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini