Share

Harga Minyak Brent dan WTI Melemah karena Permintaan di China Turun

Antara, Jurnalis · Selasa 25 Oktober 2022 07:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 25 320 2693825 harga-minyak-brent-dan-wti-melemah-karena-permintaan-di-china-turun-DbcHqsLv5U.jpg Harga Minyak Mentah Turun. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Harga minyak turun di akhir perdagangan Senin. Harga minyak tertekan permintaan di China yang lesu pada September dan dolar AS menguat.

Sementara data aktivitas bisnis AS yang melemah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lebih agresif dan membatasi penurunan harga.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember kehilangan 24 sen atau 0,3% menjadi USD93,26 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah terangkat 2,0% minggu lalu.

Baca Juga: Harga CPO Kian Mahal, Dekati Level Tertinggi

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember merosot 47 sen atau hampir 0,6% menjadi USD84,58 per barel di New York Mercantile Exchange, memperpanjang penurunan pekan lalu sekitar 0,7%.

Kedua harga acuan telah turun sekitar USD2 per barel di awal sesi.

Meskipun lebih tinggi dari Agustus, impor minyak mentah China September sebesar 9,79 juta barel per hari turun 2,0% di bawah tahun sebelumnya, data bea cukai menunjukkan pada Senin (24/10/2022), karena penyulingan independen membatasi throughput (tingkat pengolahan kilang) di tengah margin tipis dan permintaan yang lesu.

Baca Juga: AS Keluarkan 15 Juta Barel Cadangan Minyak

"Pemulihan baru-baru ini dalam impor minyak tersendat pada September," kata Analis ANZ dalam sebuah catatan, dikutip dari Antara, Selasa (25/10/2022).

Dalam catatan tersebut, penyulingan independen gagal memanfaatkan peningkatan kuota karena penguncian terkait Covid yang sedang berlangsung membebani permintaan.

Ketidakpastian atas kebijakan nol-Covid China dan krisis properti merusak efektivitas langkah-langkah pro-pertumbuhan, analis ING mengatakan dalam sebuah catatan, meskipun pertumbuhan produk domestik bruto kuartal ketiga mengalahkan ekspektasi.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Penguatan dolar AS yang sedang berlangsung, yang naik lagi untuk sebagian sesi perdagangan menyusul dugaan intervensi valuta asing lainnya oleh Jepang, juga menimbulkan masalah bagi harga minyak. Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pembeli non-AS.

"Penguatan dolar lebih lanjut akan membebani nilai WTI dengan uji penurunan kami perkirakan di 79,50 dolar AS kemungkinan pada akhir minggu," kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates.

Harga minyak kembali menguat setelah data yang menunjukkan aktivitas bisnis AS mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut pada Oktober, dengan produsen dan perusahaan jasa dalam survei bulanan terhadap manajer pembelian melaporkan permintaan klien yang lebih lemah.

S&P Global mengatakan Indeks Output PMI (Indeks Manajer Pembelian) komposit AS, yang melacak sektor manufaktur dan jasa, turun menjadi 47,3 bulan ini dari pembacaan akhir 49,5 pada September.

Pelemahan itu dapat menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga Federal Reserve AS untuk melawan inflasi telah berhasil dan dapat membujuknya untuk memperlambat kebijakan kenaikan suku bunganya, sinyal positif untuk permintaan bahan bakar, kata Phil Flynn, seorang analis di grup Price Futures.

"Penurunan angka PMI adalah tanda bahwa ekonomi mungkin sedikit melambat, yang menghasilkan bullish," kata Flynn.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini