JAKARTA - Nilai rupiah awal pekan ini melemah 7 poin atau 0,04% ke posisi Rp15.691 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.684 per dolar AS.
Dikutip Antara, hal ini terjadi di tengah ekspektasi perlambatan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed).
Adapun pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Senin, mengatakan, belakangan ini sentimen pasar terhadap aset berisiko terlihat membaik dengan kenaikan indeks-indeks saham global.
BACA JUGA:Harga Emas Melemah 0,13% karena Dolar AS Meningkat
"Membaiknya sentimen pasar ini karena berkembang ekspektasi bahwa bank sentral AS bakal melambatkan kenaikan suku bunga acuannya karena kenaikan inflasi AS mulai menurun," ujar Ariston pada Senin (21/11/2022).
Dia pun menyampaikan di sisi lain beberapa pejabat The Fed pekan lalu memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga acuan The Fed masih akan berlanjut karena tingkat inflasi AS masih tinggi.
"Ini yang turut memberikan tekanan ke aset berisiko termasuk rupiah di akhir pekan kemarin," kata Ariston.
Dari dalam negeri, lanjut Ariston, masalah suplai dan permintaan dolar AS disinyalir juga menjadi pemicu pelemahan rupiah.
"Permintaan dolar AS cenderung meningkat menjelang akhir tahun untuk berbagai kebutuhan korporasi," jelasnya,
Dia juga memperkirakan hari ini rupiah berpotensi melemah ke arah Rp15.7000-Rp15.730 per dolar AS dengan potensi penguatan di kisaran Rp15.650 per dolar AS.
Pada Jumat (18/11/2022) lalu rupiah ditutup melemah 21 poin atau 0,14% ke posisi Rp15.684 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.663 per dolar AS.
(Zuhirna Wulan Dilla)