Share

Kino Indonesia (KINO) Rugi Rp245,78 Miliar, Ini Penyebabnya

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Kamis 24 November 2022 12:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 278 2713903 kino-indonesia-kino-rugi-rp245-78-miliar-ini-penyebabnya-Ae9jbLBTh9.jpg KINO alami kerugian di kuartal III 2022 (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – PT Kino Indonesia Tbk (KINO) mencatat kerugian pada kuartal III 2022. Produsen minuman merek Cap Kaki Tiga itu membukukan penjualan sebesar Rp2,83 triliun atau turun 3,3% dibandingkan priode yang sama tahun lalu Rp2,93 triliun.

Kemudian beban pokok penjualan KINO menunjukkan kenaikan lebih tinggi, yakni 13,3% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp1,55 triliun menjadi Rp1,76 triliun. Hal ini membuat laba kotor KINO turun menjadi hanya Rp1,07 triliun dibandingkan dengan Rp1,37 triliun di periode yang sama pada 2021.

Penurunan laba kotor diikuti dengan turunnya margin kotor (gross margin) dari 47% pada Januari—September 2021 menjadi 37,8% pada Januari—September 2022. Sementara itu, posisi bottom line KINO berbalik membukukan rugi bersih Rp245,78 miliar dibandingkan dengan laba bersih Rp82,80 miliar pada tahun lalu.

Direktur Kino Indonesia Budi Muljono mengatakan, penurunan tersebut disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku. Dari kalkulasi yang dilakukan KINO, harga rata-rata 100 bahan baku yang dipakai perusahaan selama Januari—September 2022 telah naik 34% dibandingkan dengan posisi Januari 2021. Di sisi lain, KINO tidak bisa meneruskan seluruh kenaikan biaya produksi ke harga jual produk di level konsumen.

“Kami Sudah melakukan evaluasi harga, efisiensi dari sisi manufacturing, tetapi ada batas%tase kenaikan biaya produksi yang bisa bisa di-pass on ke konsumen. Tidak mungkin kami naikkan harga jual 34%,” ujarnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Disampaikan Budi, turunnya margin laba juga dipicu oleh perubahan struktur kontribusi segmen produk KINO. Dia menjelaskan kontribusi terbesar pendapatan sebelum pandemi berasal produk perawatan (personal care) dengan jumlah mencapai 50%. Pada saat yang sama, segmen ini juga menjadi penyumbang laba kotor terbesar dengan persentase mencapai 55—60%.

“Namun saat pandemi segmen ini juga yang paling terimbas. Kontribusinya terhadap total penjualan selama Januari—September 2022 hanya 33% dibandingkan dengan 40% di periode yang sama tahun lalu,” katanya.

Di sisi lain, kontribusi produk dari segmen minuman justru meningkat dari yang mulanya 38% sepanjang 2020 dengan nilai Rp1,52 triliun menjadi 47% atau Rp1,86 triliun pada 2021. Sampai akhir September 2022, kontribusi produk minuman pada total penjualan mencapai 56%. “Jadi sektor yang menyumbang gross margin tinggi masih terdampak pandemi, sementara yang lebih rendah justru mencetak rekor penjualan,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini