Share

Jurus Gubernur BI Stabilkan Rupiah dan Inflasi pada 2023

Michelle Natalia, MNC Portal · Rabu 30 November 2022 15:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 30 320 2717876 jurus-gubernur-bi-stabilkan-rupiah-dan-inflasi-pada-2023-q7Bxo6vZwM.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa kebijakan moneter BI akan difokuskan pada stabilisasi nilai tukar Rupiah dan pengendalian inflasi pada 2023.

"Kami akan dorong agar kembali ke sasaran lebih awal sebagai bagian dari langkah mitigasi terhadap dampak rambatan gejolak global, serta dukungan terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Perry dalam dalam Pertemuan Tahunan BI 2022 di Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Dia mengatakan, BI akan secara konsisten melanjutkan respons kebijakan suku bunga melalui kalibrasi secara terukur (well-calibrated), perencanaan yang matang (well-planned), dan dikomunikasikan secara transparan (well-communicated) untuk memastikan tercapainya sasaran inflasi inti lebih awal yaitu pada semester I 2023.

"Ini dilakukan untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini masih sangat tinggi dan memastikan inflasi inti ke sasaran 3±1% lebih awal di semester I 2023," ungkap Perry.

Dia juga mempertegas bahwa dalam upaya menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, BI akan selalu berada di pasar.

Baca Juga: Hindari Masalah Kesehatan yang Mungkin Timbul Setelah Penerbangan Jarak Jauh

Baca Juga: BuddyKu Fest: Challenges in Journalist and Work Life Balance Workshop

Follow Berita Okezone di Google News

"Upayanya ditempuh melalui triple intervention, spot, domestic non delivery forward (DNDF), dan transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dan juga kecukupan cadangan devisa akan kami jaga, serta juga melakukan twist operation," tambah Perry.

BI akan terus melanjutkan penjualan SBN tenor jangka pendek dan pembelian SBN jangka panjang di pasar sekunder jika dibutuhkan. Imbal hasil (yield) SBN pun akan tetap dijaga BI agar tetap menarik untuk masuknya portofolio untuk mendukung stabilitas rupiah.

"Juga sekaligus untuk menjaga agar kenaikan yield SBN untuk fiskal tidak berlebihan. Kami juga akan terus berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan," pungkas Perry.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini