Share

Harga Obat-obatan RI Dinilai Belum Terjangkau, Apa Penyebabnya?

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Senin 23 Januari 2023 19:02 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 23 320 2751482 harga-obat-obatan-ri-dinilai-belum-terjangkau-apa-penyebabnya-r2CyDaXvje.JPG Ilustrasi obat. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Industri farmasi di Indonesia dinilai masih ada persoalan, terkait keterjangkauan harga dan kemandirian produksi.

Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Ronald Tundang mengatakan harga obat yang terjangkau dan kemandirian industri farmasi merupakan dua tujuan penting namun berbeda.

Harga obat yang terjangkau dapat dicapai melalui impor bahan baku obat (BBO), sementara hal itu bertentangan dengan kemandirian industri farmasi.

 BACA JUGA:Semua Obat Sirup Produksi PT Lapi Laboratories Dinyatakan Aman oleh BPOM

Sedangkan kemandirian industri farmasi dalam jangka panjang memang dapat membuat harga obat terjangkau. Namun hal ini tidak mudah karena dibutuhkan kapabilitas riset dan pengembangan yang tinggi.

"Ada beberapa opsi untuk mengembangkan industri farmasi yang dapat diambil Indonesia," ujar Ronald dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/1/2023).

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Dia menyebut, pertama, Indonesia bisa mengikuti jejak India dan China dengan memproduksi obat generik. Kedua, Indonesia bisa juga mengikuti jejak Amerika Serikat dan Swiss menjadi pusat pengembangan riset dan teknologi.

“Sejauh ini Indonesia belum memiliki posisi yang jelas mengenai hal ini,” jelas Ronald.

Kata dia, jika Indonesia memilih opsi pertama, maka strategi yang perlu disiapkan adalah identifikasi obat paten yang akan segera habis masa berlakunya.

Di sisi lain, dia juga menyoroti kapasitas riset dan pengembangan industri farmasi di Indonesia. Menurutnya, pemerintah bisa meningkatkan kapasitas ini melalui peningkatan anggaran riset dan pengembangan.

"Saat ini anggaran riset dan pengembangan Indonesia merupakan yang terkecil di G-20, yakni 0,2% dari GDP," pungkas Ronald.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini