BALI - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa negara-negara Asia Tenggara (Asean) siap berkolaborasi menghadapi berbagai tantangan dunia. Setelah pandemi Covid-19, tantangan berikut yang mesti dihadapi seperti geopolitik Eropa, inflasi hingga kebangkrutan bank-bank di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
"Kita dihadapkan pascapandemi, kompleksitas global seperti inflasi dan ketidakpastian geopolitikk Eropa. Namun Asean memiliki stabilitas ekonomi yang baik, di mana kawasan menawarkan banyak prospek dibandingkan ancaman global. Ini menunjukan kolaborasi yang kuat untuk bisa menanggulangi risiko yang ada," kata Sri Mulyani, dalam Press Conference Asean Finance Ministers and Centeral Bank Governors Meeting (AFMGM) 2023, Bali, Jumat (31/3/2023).
Menurut Sri Mulyani, Keketuaan ASEAN 2023 dengan tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth juga sangat relevan dengan kolaborasi ini. Di mana Indonesia ingin Asean menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di regional dan dunia.
Dalam mewujudkannya, pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Asean menyepakati tiga strategi guna membuat perekonomian anggotanya berkelanjutan. Pertama, keberlanjutan digital ekonomi di Asean.
"Kita fokus dan komit soal digital ekonomi. Di mana kita memfokuskan pentingnya kolaborasi pembayaran lintas batas di sektor keuangan," ujarnya.
BACA JUGA:
Kedua terkait dengan kolaborasi kesehatan. Di mana negara-negara Asean sepakat untuk memperkuat pembiayaan kesehatan regional.