JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) merealisasikan kontrak baru hingga kuartal pertama 2023 sebesar Rp6,1 triliun. Capaian ini relatif konsisten dengan realisasi perseroan di periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito menyatakan bahwa, raihan kontrak baru sepanjang kuartal I-2023 itu mayoritas dihasilkan dari segmen industri. Kemudian, segmen energi dan industrial plant, segmen infrastruktur dan bangunan gedung, segmen realti dan properti, serta segmen investasi.
"Dalam deretan kontrak baru tersebut ada project pembangunan gedung business centre dan lanjutan landscape Poltekpar Bali yang dipercayakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke WIKA dengan lingkup pekerjaan struktur, arsitektur, MEP, site development, dan landscape," jelasnya dikutip Harian Neraca, Senin (8/5/2023).
Dirinya menerangkan, proyek gedung business centre dan lanjutan landscape Poltekpar Bali senilai Rp 101,56 miliar itu dikerjakan melalui skema pembayaran monthly progress yang sesuai dengan strategi perusahaan untuk memperkuat kondisi finansial perseroan.
Proyek gedung business centre akan menampilkan ciri khas desain bangunan Bali dengan kapasitas tampung mencapai 7.500 orang. “Kami berkomitmen mengerahkan kemampuan terbaik WIKA untuk menyelesaikan proyek ini secara tepat waktu dan tepat mutu,” ujar Agung.
Berdasarkan riset tanggal 22 Februari 2023, analis Sinarmas Sekuritas Michael Filbery pernah mengatakan, saat ini WIKA mengerjakan beberapa proyek unggulan. Sebut saja Bandara Internasional Hang Nadim, Tol Semarang Demak, dan proyek IKN.
WIKA berpotensi mencatatkan pertumbuhan kontrak baru sebesar 10% yoy menjadi Rp 33,9 triliun pada 2023. Dari segi order book, WIKA masih mengindikasikan membukukan Rp 105,6 triliun alias naik 14,6% yoy pada 2023 yang merupakan terbesar kedua setelah WSKT. Akibat kekurangan modal kerja di 2022, WIKA juga merilis sukuk dan obligasi senilai Rp 2,5 triliun.
"Dengan demikian, saya mengharapkan bounce back dalam posisi kas di 2023," ucap Michael.
Di tahun 2022, WIKA menderita rugi bersih sebesar Rp59,696 miliar atau memburuk dibanding tahun 2021 yang membukukan laba bersih sebesar Rp117,66 miliar.
Akibatnya, saldo laba menyusut 1,9% menjadi Rp4,372 triliun. Kondisi ini berbalik dengan pendapatan bersih tumbuh 20,2% menjadi Rp21,48 triliun yang ditopang peningkatan pendapatan dari lini usaha infrastruktur dan gedung sebesar 14,4% menjadi Rp10,792 triliun.
Senada, pendapatan dari lini usaha industri terkerek 23,6% menjadi Rp5,689 triliun. Demikian juga dengan pendapatan dari lini usaha energi dan pembangkit listrik terangkat 16,9% menjadi Rp3,875 triliun. Bahkan, pendapatan dari hotel melonjak 210,05% menjadi Rp708,17 miliar.
Walau beban pokok pendapatan membengkak 19,2% menjadi Rp19,278 triliun. Tapi laba kotor tetap meningkat 29,98% menjadi Rp2,202 triliun.
(Taufik Fajar)