Dalam pertanyaan terpisah, Yale juga menemukan bahwa 42% CEO yang disurvei mengatakan bahwa potensi bencana AI terlalu dibesar-besarkan, sementara 58% mengatakan bahwa hal itu tidak terlalu dibesar-besarkan.
Temuan ini muncul hanya beberapa minggu setelah puluhan pemimpin industri AI, akademisi, dan bahkan beberapa selebriti menandatangani sebuah pernyataan yang memperingatkan adanya risiko kepunahan dari AI.
Pernyataan tersebut, yang ditandatangani oleh CEO OpenAI Sam Altman, Geoffrey Hinton, godfather of AI, dan eksekutif puncak dari Google dan Microsoft, menyerukan agar masyarakat mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri dari bahaya AI.
Memperhatikan ledakan AI yang dipicu oleh popularitas ChatGPT dan alat baru lainnya, Sonnenfeld menggambarkan para pencatut komersial yang dengan antusias mencari keuntungan dari teknologi baru ini.
"Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi mereka berlomba-lomba melakukannya," katanya.
Lalu ada dua kubu yang mendorong tindakan keras terhadap AI seperti aktivis yang khawatir ataupun pendukung tata kelola global.
"Kelima kelompok ini saling berbicara satu sama lain, dengan kemarahan yang beralasan," kata Sonnenfeld.
Sementara itu, kurangnya konsensus tentang bagaimana AI harus didekati memperjelas bahwa para pemimpin industri masih berusaha memahami risiko dan manfaat dari potensi perubahan sosial yang nyata.
(Zuhirna Wulan Dilla)