JAKARTA - Pemilik Menara Saidah sebuah gedung kosong yang disebut-sebut angker akan diulas dalam artikel ini.
Diketahui, Menara Saidah merupakan gedung pencakar langit yang terletak di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur.
Gedung ini terkenal angker dan menyimpan sejumlah misteri karena memang sudah tidak ditempati sejak 2007 silam.
Menara Saidah ditutup karena alasan konstruksi bangunan yang tidak tegak dan miring beberapa derajat sehingga dianggap membahayakan.
Adapun banyak isu dan pengakuan masyarakat mengenai kejadian menyeramkan, membuat gedung ini menjadi sorotan, khususnya sosok pemilik Menara Saidah yang sekarang.
BACA JUGA:
Lantas siapa sebenarnya pemilik Menara Saidah?
Berdasarkan catatan Okezone, Senin (10/7/2023), Menara Saidah awalnya milik pendiri PT Mustika Ratu yakni Mooryati Soedibyo. Namun di tahun 1995 gedung ini dilelang, kemudian dimenangkan oleh keluarga Saidah yang kepemilikannya diserahkan kepada Fajri Setiawan.
Di bawah kekuasaan keluarga Saidah, gedung ini pun direnovasi. Perubahan yang tampak nyata adalah penambahan jumlah lantai hingga 28 tingkat.
Biaya pembangunan gedung ini mencapai sebesar Rp100 miliar saat itu.
Setelah Fajri Setiawan meninggal, kepemilikan gedung akhirnya berpindah tangan ke suami Inneke Koesherawati sekaligus putra bungsu Nyonya Saidah yaitu Fahmi Darmawansyah.
Fahmi Darmawansyah diketahui tersandung kasus dugaan suap kepengurusan anggaran Badan Keamanan Laut (Bakamla) pada tahun 2017 dan telah resmi ditangkap dengan vonis 2 tahun 8 bulan serta wajib membayar denda Rp150 juta.
Sebagai informasi, Menara Saidah juga sempat viral beberapa waktu lalu. Hal itu lantaran terlihat ada nyala api di dalamnya.
Hal ini diungkapkan seorang warga yang mengatakan terkadang Menara Saidah setiap waktu maghrib menyala dengan warna merah. Sampai saat ini belum diketahui apa penyebab dari menyalanya warna merah di dalam gedung itu.
Namun, Sekretaris RW 01, Muhammad Akbar (42) menyampaikan peristiwa yang viral tersebut sebagai suatu hal yang mustahil. Dia mengatakan Menara Saidah ini sudah tidak dialiri listrik sejak puluhan tahun yang lalu.
(Zuhirna Wulan Dilla)