JAKARTA - Pemerintah India memberlakukan larangan ekspor beberapa kategori beras. Hal itu karena kenaikan harga domestik dan kekhawatiran akan kekurangan hasil panen berikutnya, dinilai dapat mendorong harga biji-bijian global saat kerawanan pangan menjadi keprihatinan serius.
Dilansir VOA di Jakarta, Senin (24/7/2023), India, yang merupakan pengekspor beras terbesar di dunia, menyumbang 40% perdagangan beras global. India mengekspor beras ke sekitar 140 negara.
BACA JUGA:
Ketika mengumumkan larangan itu Kamis lalu, pemerintah India mengatakan harga beras di negara itu setahun terakhir ini telah naik 11,5%. Bahkan satu bulan terakhir ini kenaikan harga mencapai 30%.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Urusan Konsumen India mengatakan telah mengubah kebijakan ekspor guna memastikan ketersediaan beras putih non-basmati yang memadai di pasar India, dan untuk menahan kenaikan harga di pasar domestik. Kebijakan yang melarang ekspor beras itu akan segera diberlakukan.
India mengumumkan langkah itu hanya tiga hari setelah Rusia menangguhkan “Black Sea Grain Initiatives” yang mengizinkan pengiriman (ekspor) gandum Ukraina lewat Laut Hitam secara aman, memicu peringatan bahwa kedua kebijakan itu berpotensi menyebabkan lonjakan harga.
Editor pertanian di surat kabar Indian Express, Harish Damodaran, mengatakan pada VOA mengatakan dampak larangan beras di India pasti akan terasa pada harga global. Ini hanya beberapa hari setelah Rusia memutuskan tidak memperpanjang kesepakatan soal biji-bijian.