Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Rasuna Said, Saudagar Kaya Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Hafizhuddin , Jurnalis-Kamis, 17 Agustus 2023 |11:25 WIB
Kisah Rasuna Said, Saudagar Kaya Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia
Kisah Rasuda Said Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. (Foto: Okezone.com/Antara)
A
A
A

JAKARTA – Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah wanita pejuang Kemerdekaan Indonesia. Dia merupakan tokoh penggerak yang berjasa mencerdaskan bangsa lewat kemampuan berbahasanya.

Rasuna Said lahir di Maninjau, 14 September 1910. Tepatnya di Desa Panyinggahan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dia adalah keturunan Bangsawan Minang. ‘Rangkayo’ yang tersemat di namanya merupakan gelar adat yang ditujukan pada orang berakhlak mulia dan kaya raya.

Ayah Rasuna sendiri, Muhammad Said merupakan seorang aktivis sekaligus saudagar kaya. Menjadikannya sosok yang cukup terpandang di kalangan masyarakat Minang.

1926-1927

Di usianya yang masih belia yakni 16 tahun, Rasuna sudah bergabung dengan organisasi Sarekat Rakyat pada 1926, menjadi seorang sekretaris cabang. Setelah Sarekat Rakyat bubar di tahun berikutnya, dia bergabung ke Sarekat Islam pada 1927 dan memimpin cabang Maninjau.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jajang Jahroni dalam tulisannya ‘Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan’ mengatakan betapa Rasuna terinspirasi oleh pidato-pidato gurunya, H. Udin Rahmani, seorang tokoh pergerakan kaum muda di Maninjau dan anggota Sarekat Islam.

"Ia tumbuh menjadi seorang pribadi yang progresif, radikal, dan pantang menyerah," tulis Jajang.

1928-1929

Pemikiran kritis Rasuna semakin terbentuk ketika dia menyadari bahwa perempuan dilarang mengenyam pendidikan dan politik aktif. Dari situ perlahan Rasuna mulai memahami pentingnya persamaan hak antara pria dan wanita. Ini diperkirakan terjadi bersamaan ketika Rasuna bergabung ke organisasi reformis islam, Sumatera Thawalib.

saudagar

Berkat keorganisasiannya di Thawalib, keyakinan reformis dan agamanya semakin bulat, membuat Rasuna sangat memperhatikan kemajuan serta pendidikan kaum wanita. Masa-masa ini merupakan masa pengabdian Rasuna ke generasi penerus bangsa. Dia banyak mengajar di sekolah-sekolah yang tersebar di Padang Panjang, Padang dan Bukittinggi.

Dia mengajar di Madrasah Diniyah Putri dan bertemu salah satu tokoh gerakan Sumatera Thawalib, Rahmah El Yunusiyyah.

Selanjutnya dia juga membangun sekolah Thawalib di Padang dan menjadi salah satu tenaga pengajarnya sendiri.

1930

Pada 1930, Rasuna berhenti mengajar di Madrasah Diniyah Putri lantaran berselisih dengan pemimpinnya. Dia bersikeras memasukkan pendidikan politik ke kurikulum, dengan pandangan kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tetapi harus disertai perjuangan politik.

Di tahun yang sama, Rasuna bersama anggota Thawalib yang lama mendirikan Persatuan Muslim Indonesia (Permi). Mereka mulai lebih aktif mendirikan sekolah dan membuka kursus. Murid-muridnya diajarkan keterampilan baca dan menulis. Permi juga mencari kadernya dari situ.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement